Acara Tender yang Berujung Piknik Bersama, Bali- Lombok

Sampailah sudah di penghujung kontrak kerja antara perusahaan kami dengan PT Telkomsel. Karena perusahaan kami tidak mendapat penunjukkan kontrak langsung maka dari itu cluster yang sedang kami pegang pun harus di tenderkan. Untuk tender seleksi komersial di adakan di kantor Telkomsel Renon Denpasar Bali. Alhamdulillah untuk seleksi administrasi dan seleksi teknis perusahaan kami berhasil lolos dan berhak mengikuti seleksi komersial di Bali. Siang itu ketika saya membuka email masuklah sebuah email dari panitia Tender yang mengumumkan bahwa perusahaan kami lolos dan berhak ikut seleksi komersial di Bali, ya memang mendadak dengan acara pelaksanaannya begitu juga persiapan dari kami pun juga serba mendadak. Sesuai instruksi atasan kami berangkatlah saya, mas yana, Mas Nur dan mbak Yuni dengan mobil menempuh jalur darat dari Surabaya menuju Bali. Selasa 20 Februari 2018 kami berempat menuju Bali dan atasan kami pak Wisnu bersama 2 Admin nya menyusul pada tanggal 21 dengan pesawat terbang dari Jakarta.

Perjalanan darat dari Surabaya kami tempuh selama 16 jam nonstop hingga akhirnya tiba di Denpasar Bali. Karena masih pagi dan acara Tender masih berlangsung keesokan harinya kami pun sempatkan untuk jalan- jalan mengunjungi beberapa tempat wisata terlebih dulu. Karena masih jetlag dan belum bisa jernih dalam menentukan destinasi akhirnya kami asal saja menuju pantai di daerah Kuta. Destinasi pertama kami adalah pantai Double Six yang katanya cocok untuk menikmati sunset. Kami tiba di pantai 66 masih siang jadi pantai nya ya sama seperti pantai yang lain yaitu berupa hamparan pasir putih dengan gulungan ombak ke tepian serta ada beberapa kursi santai berjajar rapi. Sebentar menikmati udara panas khas daerah Kuta kemudian kami segera berpindah menuju Pura Uluwatu di daerah Pecatu. Di pura Uluwatu sesungguhnya pun bagus ketika matahari terbenam namun tidak mengapa meskipun masih siang kami tetap menikmati pemandangan yang di tampilkan. Kawasan pura yang di bangun di pinggir tebing pantai. Ada beberapa pura untuk beribadah umat Hindu yang di bangun di beberapa titik, diantaranya ada yang di ujung tebing juga ada yang di tengah. Ada satu spot yang bisa untuk menikmati pemandangan dimana terlihat pura yang di ujung tebing terlihat begitu mewah seolah berdiri diatas laut dengan ombak yang besar serta di bawah langit yang luas. Nah dari spot inilah dapat di lihat matahari sedang membulat sempurna dengan warna langit orange keemasan ketika senja tiba. Matahari seolah sedang melewati sela- sela bangunan pura yang terletak di ujung tebing ini. Banyak sekali saya melihat hasil foto yang memang juara indahnya merekam matahari sedang bulat sempurna diantara sela- sela bangunan pura dengan warna langit orange keemasan. Namun sayangnya kami datang ketika langit masih biru menyala dan terik matahari sedang panas- panasnya. Hal itu juga tak mengurangi keindahan yang ada di kawasan pura Uluwatu Pecatu.

Tak jauh dari pura Uluwatu kami bergeser ke pantai Bluepoint atau pantai Suluban. Ya kami bergeser tempat karena sudah cukup lama berjalan- jalan memutari kawasan pura Uluwatu. Karena masih satu daerah di Pecatu dari Uluwatu ke Bluepoint kami tempuh dalam waktu 10 menit. Apasih menariknya pantai Bluepoint? bukannya cuma kawasan cafe di tepi tebing saja?, ya memang benar sebenernya di Bluepoint ini tebingnya banyak didirikan cafe- cafe atau warung yang menghadap ke laut dan langit barat. Pantai ini sebenernya tak hanya sunsetnya yang bagus namun juga ketika pagi pun sungguh menawan. Pada saat air belum pasang kita dapat turun ke bawah dan berjalan- jalan diantara tebing dan goa batuan karang. Karena ombaknya yang cukup besar selain untuk menikmati pemandangan pantai juga dimanfaatkan oleh para peselancar untuk menghabiskan waktu diatas papan selancar hingga matahari terbenam. Diantara dari kami tidak ada yang minat atau mungkin tidak bisa bermain selancar maka kami duduk sambil menikmati para peselancar dari atas kursi cafe. Tak terasa dua jam kami menghabiskan waktu hingga akhirnya matahari terbenam pun muncul juga. Sore itu matahari tak sempat membulat sempurna sebelum akhirnya tenggelam di lautan. Langit di ujung horison tepat diatas laut agak sedikit mendung sehingga menutupi pemandangan matahari terakhir sebelum tenggelam. Diatas langit berawan berwarna warni dari biru, kuning, orange, emas dan kemerahan berpadu mewarnai langit dan juga mewarnai lautan. Semua mata pengunjung saat itu kompak tertuju ke arah laut dan langit dimana matahari akan terbenam. Selain karena langit sudah gelap kami juga harus menjemput pak Wisnu atasan kami ke bandara Ngurah rai, maka segera lah kami meninggalkan Bluepoint. Dari Bluepoint sesungguhnya tidak jauh ke bandara namun karena macetnya Bali sudah mirip jakarta perjalanan kami pun memakan waktu satu jam lebih. Tiba di bandara kami menunggu tak begitu lama kemudian mendaratlah pesawat yang di tumpangi pak Wisnu dan dua adminnya yaitu mbak Wulan dan mbak Sari. Kemudian dari bandara kami langsung menuju hotel di daerah Denpasar Barat yang sudah kami pesan jauh- jauh hari.

28279980_1882240358454966_2481185910869705506_n 28168656_1881628145182854_4345735543072815804_n

Hari kedua kami masih di Bali, saya dan pak Wisnu mengikuti tender FMC sedangkan mas Yana, mas Nur, mbak Yuni, mbak Wulan dan mbak Sari di suruh piknik keliling Bali. Hari kedua bagi saya cuma datang tender aja gak ada piknik. Begitu pun hari ketiga saya tidak kemana-mana karena mengikuti acara tender komersial sampai selesai.

Nah karena acara tender sudah selesai dan pak Wisnu juga pengen jalan- jalan terlebih dulu ke Lombok maka hari sabtu kami sepakat menuju Lombok via Padang Bai. Pukul 08:00 seusai packing dan sarapan kami pun segera bergegas menuju Padang Bai sebentar menikmati kemacetan kota bali kemudian masuk ke jalur ringroad arah ke Karang Asem Bali Timur. Sebelum tiba di pelabuhan kami sempat mampir sebentar di Pura Goa Lawah dan pantainya yang letaknya di depan Pura. Cukup puas kami berfoto di depan Pura dan pantai yang berpasir hitam. Pantai dengan ombak yang cukup besar angin sepoi- sepoi. Pantai nya terjaga kebersihannya sejauh mata memandang memang tidak ada sampah. Di sekitar pantai hanya ada sedikit warung makan dan beberapa ibu- ibu penjual racikan sesaji. Memang di pantai Goa Lawah ini juga sering di gunakan untuk acara sembahyang warga Bali.

20180224_093953

20180224_094050

20180224_094236

20180224_094440

20180224_094849

Tak jauh dari Goa Lawah kami sudah tiba di pelabuhan Padang Bai. Setibanya di pelabuhan kami membeli tiket untuk 1 mobil dengan harga 900.000 Bali- Lombok yang akan kami tempuh selama kurang lebih 5 jam. Karena harus menunggu kapal ferry yang datang dari Lombok kami jadi menunggu cukup lama di pelabuhan Padang Bai. Alhamdulillah setelah sekitar 1 jam kami menunggu kapal ferry yang akan menyebrangkan kami menuju Lombok akhirnya datang juga. Segera kami dan penumpang lainnya pun memasuki kapal. Saat itu kapal terisi cukup penuh dan rapat mungkin karena memang sedang banyak yang melakukan perjalanan jadi traficnya padat. Itu pun tidak semua truck pengangkut logistic dapat masuk semua. Di dalam kapal selama pelayaran kami memanfaatkan waktu untuk beristirahat. Saya sendiri juga tidur cukup lama mungkin ada 2 jam hingga saat sudah dekat dengan pelabuhan Lembar kami terbangun bersiap turun kapal. Rasanya sudah sangat lama saya tidak melihat keindahan pelabuhan seperti salah satunya di Lembar ini. Terakhir saya lewat Lembar pun saat touring ke NTT tahun 2014 bersama kawan saya Ndank. Ya Lembar menurut saya salah satu pelabuhan yang mempunyai view indah. Selain Lembar ada Pototano di Sumbawa yang sekitarnya di tumbuhi bukit- bukit kecil berumput tipis.

 

Oke lanjut ya, turun dari kapal kami mampir sebentar ke pantai Cemare niatnya sih sekalian makan siang yang di rapel makan sore tapi apa daya warungnya banyak yang tutup. Sebentar saja kami foto- foto di pantai Cemare karena memang mendung juga daripada kehujanan kami tinggalkan saja. Dari pantai Cemare karena sudah sangat lapar kami langsung saja menuju kota untuk makan di Ayam Taliwang Irama. Dari pantai Cemare ke Taliwang Irama memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit. Ya memang enak dan istimewa kalau ayam Taliwang yang langsung di Lombok apalagi Irama. Ayamnya empuk serta bumbunya meresap kedalam daging, sambalnya pun bisa memilih yang sedang atau yang sangat pedas. Minum saya es degan, kalau es degan mah dimana mana juga enak dan seger. Kenyang dan tenang kemudian kami segera menuju hotel yang sudah di pesan pak Wisnu di Mataram. Sebelum ke hotel kami sempat mampir ke Mall terbesar di Lombok yaitu Epicentrum Lombok. Ngapain ke mall? ya ya ya mungkin ada yang nanya jauh- jauh ke Lombok ngapain ke mall. Karena tujuan utama kami adalah tender maka pak Wisnu dan saya sendiri kurang baju santai untuk pikniknya. Jangan di tiru ya kebiasaan masuk mall ketika baju kering atau kekurangan baju saat perjalanan, karena bakalan bikin budgetmu membengkak. Setelah sudah dapat apa yang kami cari kami segera menuju hotel untuk beristirahat.

20180224_170305 20180224_173014

Keesokan paginya setelah kami siap segera saja meninggalkan hotel dan menuju pelabuhan Bangsal untuk nyebrang ke Gili Trawangan. Dari hotel kami melewati jalanan yang cukup lenggang tidak ramai juga tidak terlalu sepi. Kanan kiri jalan masih rindang tumbuh pohon- pohon yang menyegarkan mata juga menyegarkan udara tentunya. Suasana yang masih sepi dan tenang seolah membuat kami sedang berada di kampung kami sendiri. Kurang lebih 1 jam setelah melewati jalan mendatar pedesaan kemudian jalan mulai berganti dengan jalan menanjak naik turun berkelok kanan kiri khas pegunungan. Jalan semakin rindang dengan pepohonan dan udara juga lebih sejuk dan dingin. Ketika tiba di puncak jalur pendakian ternyata memang kami sedang membelah jalur pegunungan. Sebentar kami berhenti di Pusuk pass dengan pemandangan di bawah laut Lombok. Pemandangannya sungguh cantik dengan beberapa pohon sebagai frame dan backgroung perbukitan serta laut. Jika sedang melintasi jalur ini tidak rugi kalau berhenti sebentar sekedar berfoto- foto. Tapi tetap hati- hati karena banyak kera yang liar dan buas di sekitar Pusuk pass. Setelah cukup berfoto- foto kami lanjut lagi menuju pelabuhan Bangsal. Tidak lama karena memang sudah dekat dari Pusuk pass kami tiba di pelabuhan kurang lebih 30menit.

20180225_074340 20180225_074436 20180225_074504

20180225_081435 20180225_094446 20180225_125856

Sembari menunggu antrian tiket perahu menuju Gili Trawangan pak Wisnu, mas Nur dan mas Yana nyempetin sarapan juga ngopi sebentar di cafe dekat loket. Setelah selesai sarapan dan ngopi panggilan antrian tiket kami pun berbunyi tandanya kami harus segera ke perahu/ public boat. Saat itu ombak cukup besar alhasil kami selama 20 menit diatas perahu cukup terombang ambing ke kanan dan kekiri. Setelah 20 menit membelah laut kami tiba di Gili Trawangan. Ya memang tidak ada rencana yang matang sehingga kami tiba pun kliatan clingak clinguk kayak orang bingung. Mungkin bagi beberapa orang yang melihat kami bisa beranggapan ” wah ada sasaran empuk nih” ya betul memang tak lama kemudian ada seseorang yang mendekat dan menawarkan paket snorkling dari Glass Bottom Boat. Karena memang belum ada rencana yang matang akhirnya setelah diskusi sebentar saya dan mas Yana dan di setujui oleh pak Wisnu kami sepakat menggunakan paket snorkling yang di tawarkan.

Karena ada yang belum sarapan dan waktu sebelum Glass Bottom Boat berangkat masih ada untuk sekedar mencari sarapan maka kami sempatkan untuk sarapan dan membeli bekal untuk makan siang. Sebentar selesai sarapan kami kembali ke tempat pemberangkatan Glass Bottom Boat dekat loket penjualan paket trip. Nah disini ada seorang bule yang mirip banget sama Dualipa, sampe- sampe saya ngebet banget pengen nanya ” mbak koe adine Dualipa yo?”. Ya ya ya memang mirip banget, selain itu juga penampilannya nyentrik. Dengan rambut sebahu di kuncir kemudian anting dari gelang akar bahar menggantung di telinganya. Terlihat juga kalau si Dualipa KW ini cuek banget dan menikmati banget tripnya. Lanjut ya cerita perjalanan kami, ahahah malah ngebahas Dualipa. Sepertinya cuaca kurang bersahabat dengan kami. Angin dan arus laut saat itu cukup kenceng. Spot pertama snorkling kami adalah spot statue. Perahu berhenti kemudian kami di arahkan berenang oleh lokal guide menuju statue. Dari perahu menuju statue jaraknya cukup jauh di tambah lagi arus laut yang kenceng membuat beberapa orang kecapean. Setelah tiba di spot statue ternyata cuma saya si lokal guide dan 3 orang bule yang mungkin karena penasaran seperti apa statue bawah laut itu. Statue yang di maksud adalah patung orang sedang bermesraan melingkar yang di letakkan di bawah laut. Gak lama di statue saya kemudian segera balik lagi ke perahu, karena arusnyan searah saya cukup mengambangkan badan saja untuk menghemat tenaga.

DCIM100GOPROGOPR2687.

DCIM100GOPROGOPR2688.

DCIM100GOPROGOPR2696.

DCIM100GOPROGOPR2735.

DCIM100GOPROGOPR2748.

Dari spot statue kami pindah ke spot berikutnya yang katanya bisa bertemu dengan turtle. Perahu diarahkan menuju destinasi berikutnya dan ketika sampai langsung beberapa peserta trip yang masih strong pada nyebur satu per satu. Karena memang arusnya cukup kencang tak banyak yang mau turun ke laut lagi. Sebagian besar para bule dan cuma beberapa peserta lokal seperti saya, mas Nur, mas Yana, pak Wisnu dan mbak Sariame. Tak jauh dari perahu menurunkan jangkarnya kami langsung di panggil oleh guide lokal yang sudah bertemu dengan si turtle. Tidak menunggu lama saya langsung mendekat ke guide dan mengikuti arahannya termasuk tidak untuk memegang si turtle cukup menikmatinya melihat dari jarak cukup aman. Ternyata memang keren ya bisa berenang bareng turtle, yang masih belum tercapai keinginan saya adalah bisa berenang bareng hiu paus di habitatnya. Karena sudah siang serta banyak peserta yang tenaganya terkuras untuk berenang sang nahkoda kapal menginformasikan bahwa kami akan mendarat sebentar di Gili Air untuk mampir makan siang di resto yang sudah di tentukan oleh pihak agen trip. Karena tidak masuk dalam include harga paket dan sifatnya sukarela tidak memaksa maka yang mau makan siang di restoran atau makan siang diluar di bebaskan. Rombongan kami karena sudah bawa bekal makan siang yang dibawa dari gili Trawangan maka kami memilih makan siang di tepi pantai saja. Sebentar kami makan siang kemudian menyempatkan jalan- jalan di sekitar gili Air. Tak lama setelahnya kami kembali lagi ke dermaga dimana perahu kami menepi karena memang waktunya juga sudah habis untuk di gili Air.

DCIM100GOPROGOPR2773.

DCIM100GOPROGOPR2774.

DCIM100GOPROGOPR2775.

20180225_130306 20180225_132239 20180225_134256 20180225_134327

Usai wisata bahari juga wisata bawah laut sekitar gili Trawangan dan gili Air kami semua balik ke gili Trawangan. Waktu masih siang menunjukkan pukul 15:00 masih ada sedikit waktu untuk menikmati keindahan gili Trawangan di darat. Tak jauh dari dermaga penyeberangan public boat kami menuju pantai di depan hotel Ombak sunset yang terkenal dengan ayunan di tepian pantainya. Saya pikir tak terlalu jauh jadi terjangkau dengan jalan kaki saja namun sudah berjalan cukup jauh dan rupanya perjalanan kami baru separonya. Karena memang masih cukup jauh dan sudah pada capek pak Wisnu dan para gadis akhirnya memilih memberhentikan cidomo dan saya bertiga melanjutkan jalan kaki sampai ombak sunset. Bagusnya sih di ombak sunset ini adalah memang menikmati sunset tapi saat kami disana hari masih terang. Di ombak sunset dengan bermain ayunan dan berfoto ria kemudian tak lama karena selain sudah puas juga sudah mulai capek kami kembali ke dermaga untuk ganti baju kering, istirahat dan menunggu public boat menuju bangsal. Sesuai info yang saya dapat bahwa public boat yang terakhir adalah jam 17:00. Alhamdulillah masih kebagian tiket public boat menuju bangsal dengan pemberangkatan pukul 16:30 dan lama perjalanan 30 menit. Setibanya di Bangsal masih ada cukup waktu untuk menikmati sunset dari dermaga Bangsal. Tak kalah menariknya dengan sunset di tepian pantai sunset di tepi dermaga Bangsal juga indah menawan. Selain saya yang kesana kemari menikmati matahari yang sedang berangsur tenggelam juga banyak warga sekitar yang menikmati senja dengan memancing ada pula yang bercanda tawa dengan teman atau kerabat serta ada beberapa yang asik berselfi dengan background sunset yang menawan.

20180225_172806 20180225_172823

20180225_181302 20180225_181616 20180225_183741 20180225_181912

Senja semakin malu menampakkan wujudnya cahaya remang berganti gelap matahari bersembunyi rembulan mulai berani menampakkan wajahnya. Dermaga berubah sunyi warga pulang ke rumah masing- masing. Kendaraan mulai sibuk mencari celah untuk keluar meninggalkan dermaga. Kami juga saatnya pergi menuju hotel untuk beristirahat. Malam itu pilihan jatuh untuk menginap di sekitar Senggigi agar tidak terlalu jauh perjalanan dari Bangsalnya, karena memang kami sudah capek di perjalanan. Sambil menikmati blue hour sisa sisa sunset saya memacu laju mobil perlahan melintasi jalanan yang berkelok naik turun di tepian laut. Kurang lebih 30 menit perjalanan menuju hotel kami tiba di salah satu hotel kece di Senggigi. Hotelnya luas dan bangunannya juga etnik terdapat kolam renang yang juga cukup syahdu untuk berenang pagi- pagi. Hotelnya memang agak masuk ke dalam jadi jauh dari jalan raya membuat suasana memang enak untuk istirahat.

20180226_060106 20180226_063523 20180226_063752

Pagi hari setelah puas berenang kemudian sarapan saya di panggil pak Wisnu untuk segera bersiap meninggalkan hotel dan lanjut ke kota Mataram. Sesampainya di Mataram kami menuju sebuah pusat kerajinan Mutiara di daerah Sekarbela. Ada mutiara dengan harga seratusan ribu hingga jutaan. Pak Wisnu membeli beberapa buah mutiara belum di rakit atau di jadikan perhiasan serta dua buah gelang kemudian membayarnya dan lanjut ke pusat oleh- oleh lainnya. Karena biar sekali mendayung bisa dapat semua akhirnya kami sepakat untuk ke tempat oleh- oleh yang umum. Nama tokonya saya lupa, tapi saat itu memang cukup banyak ada oleh- oleh makanan juga kain tenun serta kaos dan fashion lainnya. Saya ikut- ikutan belanja makananrawat Pak Wisnu, mbak sariame dan mbak Wulan sudah mendekati waktu flight secepatnya kami segera menuju bandara agar mereka tidak ketinggalan pesawat. Sesusai permintaan pak Wisnu yang meminta kami langsung meninggalkan mereka di bandara saja dan lanjutkan perjalanan. Hari masih pagi menuju siang dan sore ataupun gelap masih cukup lama. Karena sudah jauh sampai Lombok akhirnya temen- temen minta sekalian jalan- jalan di puasin di Lombok.

 

Awalnya tujuan kami adalah ke pantai Tanjung Aan, karena sebelum menuju pantai kami melewati desa adat Sade akhirnya berhenti dahulu sekalian mampir melihat- lihat. Desa Sade tentunya sudah pada tau kan ya seperti apa, yang jelas selian bisa melihat rumah adat khas suku sasak juga bisa belanja kain tenun yang langsung di tenun di desa ini. Oh iya kami juga mendapat cerita atau penjelasan dari suku asli penduduk Sade bagaimana kehidupan di desa ini. Salah satu hal yang menarik adalah adanya kawin culik, yaitu calon istri di culik dulu diajak pergi dari rumahnya kemudian baru di minta ke orang tua si wanita. Setelah acara culik menculik barulah mereka di nikahkan. Dan yang paling antusias mendengarkan cerita tentang nikah culik adalah mas Nur dan mas Yana. Sampai- sampai cerita ini di bahas sepanjang perjalanan di Lombok.

Langsung lanjut ke cerita menuju pantai Batu Payung dekat Tanjung Aan aja ya. Nah meskipun matahari masih bersinar dengan teriknya tapi kami tetap bisa menikmati keindahan yang di sediakan. Pantai yang indah, bersih dan saat itu masih sepi cuma ada rombongan kami serta satu rombongan lain dari Malaysia. Kebetulan ada tukang penjaja degan segar, setelah deal tawar menawar kami laks4 buah degan segar. Tentunya kami juga banyak berbincang- bicang sama di mas penjual degan segar. Banyak hal yang kami bicarakan selain ngomongin keindahan Lombok mas Nur juga sempat- sempatnya nanyain si mas apakah dulunya juga melaksanakan kawin culik? wes jan ada ada aja memang mas Nur iki. Dan sepertinya memang masih banyak warga Lombok kususnya suku sasak yang melaksanakan tradisi kawin culik.

Dari pantai Batu Payung lanjut lagi ke Tanjung Aan yang dekat dan hanya sebagai ampiran karena menunggu waktu sunset masih lama. Pantai Tanjung Aan ini yang terkenal pasirnya agak besar seperti merica bukan lembut seperti tepung layaknya pasir putih lainnya. Pantainya masih terjaga dengan baik, saya pernah datang 2011 dan kondisinya cuma nambah beberapa gazebo dan warung- warung namun kebersihannya masih bisa saya bilang terjaga dengan baik. Air yang jernih dengan ombak tak terlalu besar banyak bule sedang asyik bermain air di tepi pantai. Di atas pasir berderet beberapa bule sedang berjemur menikmati hangatnya sinar matahari khas Indonesia. Saya dan temen- temen hanya menikmati dari gazebo sambil sambil foto yang sekiranya menarik. Tak terasa sudah hampir lebih satu jam kami bersantai di pantai Tanjung Aan. Sudah mulai bosan dan mati gaya akhirnya kami pindah ke tujuan selanjutnya yaitu bukit Merese.

Bukit Merese pun letaknya tak jauh dari pantai Tanjung Aan jadi memang banyak yang bisa di explore sekitaran Mandalika ini. Dengan menempuh kurang lebih 20 menit dari Tanjung Aan kami sudah sampai di parkiran bukit Merese. Terdapat sebuah parkiran sederhana milik seorang warga dengan tarif 10 ribu untuk satu mobil. Untuk menuju puncak bukit kami harus treking sedikit melewati jalan setapak kurang lebih butuh waktu 15 menit saja. Dari puncak bukit Merese ini terlihat dengan jelas pantai dan laut yang menghampar luas dan sungguh indah. Hari masih siang pengunjung belum terlalu ramai hanya kami dan beberapa orang pengunjung lain. Mumpung masih sepi kami tak sia- siakan untuk memuaskan hasrat berfoto dengan background pemandangan yang indah dan saat itu cuaca pun cerah mendukung. Hijau rumput tipis tumbuh bagaikan karpet di hamparkan di bukit Merese serta birunya langit dan laut seolah berpadu menghimpit garis horisontal.

Terik matahari perlahan mulai meredup dan senja sudah terlihat datang dari jauh menggantikan terik panasnya matahari. Saat yang ditunggu- tunggu semakin dekat juga pengunjung bukit pun semakin banyak dan mulai duduk rapi memilih tempat yang diinginkan. Suasana menjadi ramai, para pengunjung menunggu sunset sambil ngobrol dengan temannya. Ada yang pakai bahasa Cina, Jepang, Inggris, Jerman, Rusia, dan bahasa Indonesia tentunya. kLangit semakin menunjukkan warna orange keemasan matahari semakin dekat dengan horison. Saya menengok jam di layar ponsel menunjukkan pukul 17:45, ya kira- kira masih 30menit lagi sunset nya datang. Langit tidak mendung cukup cerah sehingga tidak mengecewakan pengunjung saat itu. Semua terhibur dengan happy ending menikmati indahnya sunset bukit Merese. Karena sudah gelap kami pun meninggalkan lokasi dan segera menuju pelabuhan Lembar untuk menyebrang ke Padang Bai.

 

balik ke balinya mampir sanur dan nusa penida

broken beach angel bilabong klingking dan seganing waterfall

mereka pulang saya lanjut meeting dan eksplore GWK dan balik blue point

You may also like...

Leave a Reply