[ LOMBOK ] Pendakian Gunung Rinjani, Puncak Dewi Anjani

kala itu pikiran sedang tak karuan entah apa yang ku pikirkan, serasa akan hilang diriku. duapuluhdelapan juni duaribuduabelas pada hari kamis pukul 12.xx usai shalat dan berdoa pada Sang pemilik bumi. di punggung telah menjulang tinggi tas cariel melebihi tinggiku di tangan menenteng alat lukis cahaya. alas karet hijau putih pun tak menjadi soal mengantarkanku dari negri bintaro menuju suatu tempat dimana para capung besi itu menyandarkan diri mereka. Sukarno-Hatta biasanya orang menyebutnya, dalam perjalanan ku dapati seorang bapak menegurku “mau kemana dek?” itulah awal pembicaraan kami. ternyata si bapak yang waktu itu tidak sempat berkenalan namanya akan berkunjung ke kampung halamannya karena ada acara keluarga. palembang dia bilang akan kesana, dan aku bilang “bali tujuan saya pak”. dia pikir hidupku begitu enak bisa pergi liburan ke bali dengan waktu yang begitu lama 12 hari. setelah di tanya dimana aku bekerja rupanya dia mempunyai adik sepupu yang bekerja satu kantor denganku ya namanya bang coki senior di divisiku.

tak terasa 1,5 jam perjalanan sampai juga di sukarno-hatta tapi tapi tapi ada tapinya, kami seisi mobil travel di kejutkan oleh kejadian terbakarnya sebuah mobil di depan terminal 1a.

ini bukti picture saya ambil random dari gugel biar gak hoax



kejadian tersebut sempat membuatku panik, “waduh lha yen ngene iki lak yo iso2 aku telat njur rasido nang rinjani noooo, TIDAKKKKKK”
tapi karena sopir travel lihai dan menenangkan penumpang dia bilang “tenang pak kita cari jalan lain dulu biar bisa masuk ke terminal”
dan ternyata benar kami bisa satu persatu selamat sampai di terminal masing masing.
turun dari mobil travel gemetar kaki dan degup jantung semakin tak menentu karena meskipun ini kedua kalinya naek pesawat terbang tapi ga tau mekanismenya kalo dari terminal 3 sukarno hatta. tapi dengan bantuan mbak SPG akhirnya ku lalui semua ke gugupan itu.
16.40 aku memasuki capung besi raksasa dan mencari kursi no 21D, disana sudah duduk dua perempuan dengan wajah orang timur. duduk terdiam tanpa kata aku pun di kursi tersebut, bertanyalah salah seorang dari dua perempuan itu “mas orang jawa ya!!!”, damn di todong dengan kata-kata tersebut rada pengen marah dan tersenyum seakan akan “raiku njawani”. Setelah ku tanya balik mereka orang flores yang mau liburan ke bali yang saat itu sedang bekerja di jakarta.
Tiba di ngurah rai aku ambil cariel di meja besi berjalan berisi tas tas besar. sebelum dapat aku keluar di pintu keluar petugas menyuruhku menurunkan tas tapi kulihat yang lain tak ada pengecekan apapun. kupikir dia curiga aku bawa senjata tajam atau bahan peledak atau apalah entah aku tak tau, ternyata setelah tas ku turunkan dia bilang “dek apa2an ini tasnya di bungkus2 segala!! buka dulu tasnya!!!saya mau cek” dengan galak dan logat balinya. tak ku hiraukan kata kata petugas itu dan cuma kulihat saja akhirnya dia meminta boarding pas saja dan cek ricek akhirnya tanpa ribut aku pun dapat keluar dari bandara.
Bertemu dengan ocin dan marina yang sudah tiba duluan di bali membuat hati lebih tenang. karena lapar aku ajak mereka berduamakan dulu sembari menunggu iityangmasih terbang dari jakarta.pukul 23.xx iit tiba di ngurah rai dan segera kami melanjutkan perjalanan ke padang bai untuk menyebrang ke lombok. 06.xx kami sudah menepikan kapal di lembar.

kapal ferry padang bai meunuju lembar

di sebuah dermaga kecil lembar
perjalanan di lanjutkan menuju mandalika dengan angkot, 1,5jam perjalanan. mandalika menuju aikmel dengan engkel orang lokal bilang.sempat bingung terjadi di aikmel antara belanja sayur di aikmel atau lanjut ke sembalun karena beberapa sumber berkata di sembalun sudah tidak bisa melengkapi perbekalan. tapi karena rayuan sopir mobil bak sayur gunung itu kami lanjut ke sembalun dan tiba di sembalun aku tertinggal waktu shalat jumat :(. Semoga ALLAH memaafkanku karena hal tersebut ASTAGHFIRULLAH…
RTC sembalun tempat pendaftaran para pendaki gunung rinjani, 20ribu harga tiket yang akan mengantarkan ke puncak keagungan dewi anjani. sebelum gelap datang kami lakukan ritual seperti biasa yaitu berfoto foto ria.lelah berfoto foto iit memutuskan untuk memasak untuk akan malam. di luar pos di sebuah gazebo kecil kami menumpang istirahat sementara. aku pikir malam itu tak sedingin yang terasa tapi ternyata masih di bawah kaki gunung pun suhu malam hari mencapai 12derajat celsius suhu yang sangat dingin. Terbangun karena dingin dan tak bisa lagi tidur saat itu pukul 02.xx akhirnya kupilih untuk memotret bintang bimtang yang menyinari puncak rinjani.

usai shalat subuh pukul 05.30 iit memasak pancake untuk sarapan kami berempat meskipun rasanay aneh tapi cukup untuk mengisi tenaga pendakian awal.

dari pos pendaftaran tawaran mobil sayur mengantar sampe jalur mobil terakhir pun tak kami tolak. pos 1 masih jauh dan belum terlihat penampakannya dari kejauhan. satu jam tak terasa sudah kami berjalan lewati savana, sungai serta bukit. 1jam setengah akhirnya tiba di pos satu meskipun belum terasa capek kami sempatkan untuk meneguk air dan istirahat sebentar.


melanjutkan pendakian dengan semangat membara masih berkobar ayunan langkah kaki dengan pasti. jalur masih merupakan jalur savana dengan atap langit biru menyegarkan mata agar pendaki tak bosan dan berkeluh kesah. setengah jam perjalanan kami ternyat sudah tiba di pos 2 tepat di jembatan.di pos 2 inilah kami di sambut gerombolan monyet- monyet pencuri yang wajib di waspadai.



pos 3 adalah pos yang kami tetapkan sebagai malam pertama membuka tenda, di sini kami melepaskan lelah untuk sementara waktu. menjelang malam tiba iit menyiapkan makan dan yang lain masih sibuk sendiri ada yang membersihkan badan, ada yang shalat, ada memasak air panas dan saya sendiri menyiapkan kamera. matahari mulai malu dan segera bersembunyi di balik awan berganti dewi malam mengintip dari balik bukit. sebuah keisengan untuk menangkap sang bintang terang karena pancaran dewi malam.


sebelum sang surya menyinari dengan teriknya aku terbangun dari mimpi panjang tentang dewi anjani. segera bergegas keluar tenda dan menghirup segar udara dingin pegunungan. resapan embun pagi terasa hingga ke dalam tulang dan darah. secuil pancake semoga hangatkan suasana saat itu, meskipun hanya secuil aku berharap akan menemani perut hingga ujung 7 bukit penyesalan

 tibalah kami di plawangan sembalun gerbang awal menuju puncak singgasana dewi anjani, dengan angin yang lebih kencang dan ketinggian membuat udara makin dingin. seakan membuat kami kewalahan menghadapi semuanya, awal yang buruk salah satu dari kami sudah terkena demam dan hampir membuatku tak tau akan berbuat apa.




dari plawangan sembalun lah sesungguhnya perjuangan demi sebuah gengsi di mulai, perjalanan yang sudah lama kami nantikan. 3726mdpl adalah gunung tertinggi di kepulauan bali, lombok dan flores. dengan sebuah sebutan puncak dewi anjani memiliki bukit, lembah, sungai, danau dan puncak gunung. 9 jam menuju puncak yang tidak sia sia dan tak akan aku lupakan sepanjang sejarah hidupku. pada 02.00 dini hari kami berempat merayap menuju puncak keagungan dewi anjani setapak demi setapak kami lalui tanpa terasa sudah 5 jam dan hampir membuatku menyerah. karena semangat seorang teman bernama rita alias iit semangatpun seakan terbakar panas matahari saat itu. percakapan yang sempet teringat iit says: ” thur lu naik aja sampe puncak tinggalin gue sendiri g papa” , “gak it, kalo lu gak sampe puncak ya kita turun aja sekarang g papa” balasku. “kalo lu sendiri kan masih bisa lari dan cepet sampe puncak” sahut iit lagi, “yaudah sekarang lu mau sampe puncak gak???kalo gak kita turun aja g papa :D” jawabku dengan senyum. “OKE!!! kita pelan pelan aja ya sampe puncak” kata iit setelah dapat kata kata penyemangat dari orang- orang yang sudah turun dari puncak.




serasa terbang diatas langit birunya pulau lombok ketika kaki lemasku menginjak tanah tertinggi ini. 10.4x wita saat itu yang ada di pikiranku hanya semua keindahan alam lombok yang ramah kepadaku, mereka berikan dan manjakan aku dengan semua yang ada. salah satunya adalah gunung rinjani yang masih menjadi primadona bule dan lokal. bukan hanya kami yang penuh perjuangan berat namun mereka yang berkaki panjang juga tak sekali dua kali mengelap dahi serta hidung mereka.

satu jam aku rasa cukup untuk mengambil beberapa foto dan istirahat sejenak, dan segera turun dari puncak karena takut angin segera datang menjemput. perlahan ku seretkan kaki diatas pasir pasir berderai itu menuruni puncak rinjani. tak terasa sudah 1 jam terlewati dan tinggal separoh perjalanan lagi sempat terbayang bagaimana tadi naiknya kenapa sekarang turun dengan lebih cepatnya. dan welldone sampai di tenda dengan perjalanan turun adalah 3 jam, waktu yang sangat jauh berbeda dengan waktu menuju puncak. di tenda kami di sambut oleh ocin dan marin yang sudah membuat puding serta minuman hangat sehangat sambutan mereka berdua :D.

tak berlama lama setelah aku sempat tertidur selama satu jam kaki harus siap di adu lagi dengan tetumpukan batuan alam terjal nan keras. ya menuruni plawangan sembalun menuju segara anak memang bukan hal mudah di lakukan pada sore menjelang petang. target adalah magrib sudah sampe di dasar tebing dan tidak lagi merasakan turunan batuan terjal. dua jam sudah terasa kaki mulai lemas dan pegal pegal, namun bebatuan tak kunjung usai menjamu kami. akhirnya setelah 3 jam lebih kami susuri jalananan terjal berbatu bertemulah dengan jalan setapak mulai landai dan bersahabat. semangat mulai membara kembali setelah jalan setapak mulai enak diajak kompromi, tak terasa hingga capek terlupakan sampai sampai salah satu teman kami ada yang kelewat capek hingga muntah- muntah. setelah istirahat sebentar temen aku siap untuk melanjutkan perjalanan kembali entah dia berhalusinasi entah beneran aku sendiri juga sempet melihat bayangan seorang wanita berambut panjang. beda dengan pengakuan cerita temenku saat sudah berada di gili trawangan, iit berkata “thur untung lo mau sabar dan segera jalan lagi pas gue bentak kalo gak bisa pingsan gue, karena saat itu gue lihat ada cewe rambut panjang baju putih di depan gue tapi gue ga bisa bilang apa- apa”. padahal tenda yang sudah terpasang oleh teman kami sudah sangat dekat dengan tempat kejadian perkara tersebut. 15menit kemudian kami berdua sampai di tepi segara anak dan di sambut oleh ocin dan marina. terima kasih ya ALLAH masih Engkau berikan kekuatan dan kesabaran hingga tiba di segara anak. bersihkan badan, ambil air wudu, shalat magrib dan isya kemudian makan seadanya dan tidurrrrr….. *horeee tidur juga akhirnya.

dengan luas yang lumayan bisa menampung banyak tenda di halaman segara anakan ini kami bisa merasakan tidur pulas. sempat terbangun saat subuh dan ingin rasanya setelah shalat subuh aku keluar sebentar untuk mencari sunrise tapi apa daya kehangatan dalam tenda memaksaku untuk tidak keluar tenda hingga jam 07.xx wita. pemaksaan dari diri masing masing akhirnya pada 08.xx kami keluar juga dari dalam tenda dan bergerak2 agar badan tidak dingin, aku sendiri memilih berjalan jalan di sekitar danau sekaligus mengambil gambar.


perjalanan belum berhenti di segara anak ini, ya iya kali mau menetap di segara anak. usai mengambil beberapa gambar aku dan teman temanku menuju hot spring water untuk me”rilekskan” badan setelah capek menempuh perjalanan panjang. sangat disayangkan ketika tiba di hot spring water kami di suguhi keramaian dan banyak sampah yang tercecer di area tersebut. tidak cuma sampah makanan seperti bungkus roti dan indomie tapi banyak juga underwear yang mungkin sengaja di tinggalkan pemiliknya karena malas membawa celana dalam basah. kalo di biarkan terus menerus rinjani dan segara anak akan di tinggalkan banyak penikmat alam donk. oke balik lagi ke cerita perjalanan, biar nanti di usulkan saja tentang sampah ke pemerintah rinjani. selesai mandi air panas kami masak ikan hasil tangkapan, tangkapan orang lain maksudnya hahahaha…. barulah pukul 15.xx kami selesai makan dan beres- beres siap meninggalkan segara anak.

tanpa basa basi lagi ya langsung udah di perjalanan aja nie menuju plawangan senaru. setelah menyisir segara anak kami di hadapkan dengan lautan batu batu besar dan kecil namun rendah alias ceper dan di namakan jalur batu ceper yang sebelumnya telah kami lewati tanjakan iblis atau rock climbing I. sejenak kami istirahat menghela nafas dan menghirup air eh salah meneguk air telaga suci yang dinginnya bagaikan air iceland. 15 menit tak terasa sudah berlalu saatnya kami melanjutkan perjalanan menuju tanjakan setan atau rock climbing II, aku kira akan lebih ringan ternyata malah banyak trek yang lebih sulit ketika tangan memegang senter, pundak dengan beban kulkas dua pintu, sepatu licin ketika berhadapan dengan bebatuan. hemmm harus sungguh ekstra hati- hati dan pelan pun tak jadi masalah karena hari sudah gelap jangan sampe salah menginjakkan kaki. terbayang saat itu di kiri jalur adalah tebing curam yang seketika bia membunuhku saatku lengah menyeretkan kaki. meskipun kepala semakin sakit menahan dingin dan lapar saat itu aku tak boleh menyerah tinggal satu genjotan saja sampai di plawangan senaru.

5 jam perjalanan merayapi bebatuan raksasa menuju plawangan senaru berakhir juga. usai makan aku pun langsung tidur karena tidak seperti sebelum2nya yang masih kuat menahan dingin dan sempet foto beberapa objek. esok paginya kepala masih terasa sakit tapi perjalanan harus tetap berlanjut karena satu langkah maju aku sampai di pintu keluar senaru. 

pukul 10.00 pagi itu kami mulai merayapi bebatuan bukit senaru yang disambung jalan setapak tanah berpasir. 2 jam merayap kami tiba di pos 3 senaru, setelah istirahat sekitar 30menit kami melanjutkan perjalan agar tidak kemalaman di pos 2 atau satu, karena kata orang setempat di pos 2 atau 1 matahari siang pun tak masuk dengan sempurna sehingga membuat daerah tersebut gelap. ada cerita tentang hewan buas yang tidak terlihat manusia tapi jika ada manusia yang lengah dan tersesat di tengah rimbunnya pepohonan maka jadilah santapan untuk si hewan yang di juluki beboro oleh warga setempat. ya karena itulah kami memilih yang aman aja maka geber kaki pun tak kami ragukan, dan benar adanya aku sendiri bersama marina 1 jam perjalan sudah sampai di pos 2. di lanjutkan lagi berlari menuju pos ekstra menempuh setengah jam perjalanan, tiba di pos ekstra pukul 2 lebih dan aku pikir sebaiknya aku shalat dahulu sembari marina istirahat. usai shalat dzuhur dan ashar aku dan marina lanjut berlari menuju pos 1 yang dapat kami tempuh selama 30 menit juga. menunggu beberapa saat kedatangan iit dan ocin namun tak kunjung ada pencerahan maka kami berdua memilih untuk lanjut saja ke pintu keluar atau jbagkawah. tidak ada satu jam kami sudah sampai di pintu keluar senaru pada pukul 15.xx. karena ada sebuah warung kecil yang menyediakan lumayan banyak makanan kami tanpa ba bi bu bi bo langsung mengambil minuman segar dan memesan mie rebus dengan telur.



finally we are save, we are great!!!


lanjut lagi cerita perjalanannya, turun dari pintu senaru aku dan marina masih kekeuh pengen ke aer terjun sendang gila dan tiu kelep. lokasi tidak jauh dari pintu senaru yaitu 30 menit naik ojeg jalan santai menuju RTC. keluar dari wisata aer terjun pada 17.xx kami sewa mobil menuju bangsal yaitu pelabuhan kecil sebelum menyebrang ke gili trawangan. karena sudah malam kami menginap di hotel tamansari milik orang bali yang terdekat dengan bangsal.

videonya :

perjalanannya


mungkin secara singkatnya pada waktu turun dari gunung dan have fun di lombok adalah seperti ini :

hari pertama turun dari rinjani kami ke gili trawangan, dan menginap di sana satu malam.
kemudian pulang dari gili trawangan kami ke mataram untuk mencari hotel. di mataram sempat muter- muter mencoba ayam taliwang. paginya kami ke pantai senggigi dan sorenya ke kuta ka tanjung aan dan di akhiri ke bandara mengantar marina yang take off dari lombok.

malamnya sebelum ke lembar kami muter muter lombok menikmati kuliner dianter oleh supirnya lupa namanya.dan pukul 11 kami meninggalkan mataram menuju lembar untuk menyebrang ke bali. tiba di bali kami menuju suko wati, taman ayun, dan kuta- legian, memang tidak cukup di bali kalo cuma 1 hari.


secara singkat seperti itu, nanti di sambung dengan cerita tentang gili, lombok dan bali 😀

untuk detail durasi dan biaya :

You may also like...

6 Responses

  1. bayu i says:

    nice writing tur, bravo

  2. ijon mulyadi says:

    mantap om gondrong

  3. ayo kpn2 naik rinjani mas…
    stlh rinjani kita ke tambora di pulau sumbawa…

  4. iya mas naik rinjani lagi 5 tahun lg mungkin 😀
    naik tambora boleh deh hehehehe hayuk kapan mas 😀

Leave a Reply