[ MALANG ] Jelajah Liar Mahameru & Bromo [ INI INDONESIA ]

Setelah beberapa kali terdapat hambatan- hambatan yang akan menggagalkan acara pendakian menuju Mahameru dan Bromo. Tibalah saatnya periksa kesehatan ke klinik untuk mendapatkan surat keterangan sehat. Semenjak 3 hari sebelum datang ke klinik saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan Jantung. Ada saatnya denyut jantung sangat lemah memompa darah mengalir ke seluruh tubuh. Sepertinya karena kecapean setelah di gempur shift yang membabi buta dua minggu belakangan. Nut… nut… nut Tensimeter menekan lengan kiri saya. Pengukuran pertama saya masih rileks namun terjadi keanehan karena Tensimeter tidak menunjukkan angka yang signifikan bahkan terus turun serasa tak ada denyut di nadi kiri saya. hingga empat kali percobaan yang akhirnya saya benar- benar cemas jikalau memang saya sedang tidak fit. Namun apa yang terjadi dokter berbicara lain bahwa tekanan darah saya normal, saya pun pasrah apakah dokter berbicara jujur atau karena memang ingin memberikan izin naik gunung kepada kami.
St. Pasar Senen
Matarmaja dalam Senja
Matarmaja Di Balik Sunrise
 Berlanjut di hari pertama yaitu hari Jumat pukul 10:00 kami bertiga Rusby, Uri dan Saya berangkat menuju stasiun Pasar Senen. Sesampainya di stasiun kami langsung menukar tiket kereta dan lanjut sarapan yang tertunda. Selesai sarapan karena saat itu hari Jumat maka saya dan Rusby melaksanakan shalat jumat terlebih dahulu. Pukul 13:30 semua team sudah berkumpul semua di depan peron stasiun Pasar Senen. Saya, Rusby, Uri, Husna, Rina, Wiwik, dan Tanti. Di dalam gerbong kereta perjalanan di mulai dengan canda tawa kami bertujuh hingga malam menemani. Agar tidak semakin kecapean saya pilih tidur lebih awal daripada yang lain. Alhamdulillah kereta tepat waktu tiba di stasiun Malang Kota Baru. 09:00 kami sudah menuju desa Tumpang sebagai gerbang utama pendakian menuju gunung Semeru. Sarapan nasi Pecel dengan minuman Es Beras Kencur sambil menunggu jemputan Jeep yang sudah kami pesan dari mas Muchsin. Selesai makan dan packing ulang Jeep yang kami tunggu pun sudah datang. Mampir membeli kelengkapan logistik menuju Ranu Pane sebagai basecamp pos pendaftaran. Melengkapi formulir mulai dari list anggota hingga list barang yang dibawa dalam pendakian. Kami bertujuh termasuk pendaki yang hampir saja tertunda karena jatah pendakian perhari itu sudah tinggal sedikit.
Lautan Awan di balik ranting
————————————————————————————————————————
Lautan awan terlihat jelas
————————————————————————————————————————
13:00 tiket serta ijin pendakian sudah kami dapatkan dan pendakian pun di mulai. Dengan tenaga prima dan masih penuh kami terus melangkah tanpa henti hingga tibalah di Pos 1 dengan waktu tempuh 45 menit. Karena di Pos 1 penuh oleh pendaki lain maka team kami memilih untuk melanjutkan perjalanan saja. Tak jauh dari Pos 1 rupanya Pos dua hanya membutuhkan waktu 30 menit dengan medan yang masih landai. Sama dengan Pos 1 ternyata di Pos 2 juga di penuhi oleh pendaki lain, meskipun sudah lelah kami tetap melanjutkan perjalanan dengan berharap di pos 3 masih ada sedikit tempat untuk sekedar menarik nafas dengan tenang. Karena jalur yang mulai bervariasi dari landai hingga terjal menanjak perjalanan kami pun menjadi lebih lama yaitu sekiranya 75 menit dari Pos 2 ke Pos 3. Jalan setapak mulai gelap semakin berat sisa jalan yang harus kami tempuh. Awal dari Pos 3 menuju Pos 4 adalah tanjakan terjal sekiranya ada 15 m menjulang tinggi 70 derajat ke atas. Karena gelap dan jalan setapak yang harus kami lalui dengan hati- hati maka lama perjalanan pun menjadi 30 menit labih lama dari durasi normalnya. Tiba di Pos 4 hari sudah benar- benar gelap saatnya senter dalam genggaman kami. Karena sudah dekat istirahat lebih lama di Pos 4 pun menjadi pilihan. Seteguk dua teguk sekunyah dua kunyah minum dan makanan ringan di temani kabut tipis membekukan bulu kuduk. Menggigil pertanda bahwa kami harus segera bergerak agar terjadi pembakaran dalam tubuh. Tak sampai satu jam kami sudah tiba di Ranu Kumbolo dan sesegera mungkin mendirikan tenda.
————————————————————————————————————————
Milkyway Ranu Kumbolo
Di tengah hingar- bingar keramaian Ranu Kumbolo saat itu saya sengaja menyempatkan untuk merekam keindahan taburan bintang terang langit gelap. Sekiranya 300 orang yang bermalam di Ranu Kumbolo tak membuat konsentrasiku untuk tetap merekam keindahan langitnya. Ya memang sebagian besar orang berlibur datang ke Semeru hanya untuk sekedar melepas penat dan menikmati keindahan Ranu kumbolo. Maka tak heran jika setiap akhir pekan Ranu Kumbolo selalu ramai oleh penginap. Semakin gelap langit biru semakin hening suasana malam semakin dingin pula udara serta selimut kabut yang menghampiriku. Tak ada yang lebih baik selain saya masuk ke dalam tenda mengahangatkan badan serta mengistirahatkan raga yang sudah letih.
Ranu Kumbolo Pagi Hari
————————————————————————————————————————
————————————————————————————————————————
 
 Ranu Kumbolo Belum ramai

Menimba Air di Ranu Kumbolo

Denting alarm bagaikan petikan merdu piano membangunkan kami di keheningan pagi buta pukul 04:45 WIB. Menengok keluar tenda hari sudah terang namun matahari masih malu bersembunyi di balik bukit dan kabut tipis membuat saya kembali menarik sliping beg kembali seusai shalat Subuh. Terdengar teriakan tenda sebelah yaitu Husna dan Uri yang memanggil kami segera keluar bahwa hari sudah cerah. Biru langit berhiaskan kabut tipis berserat- serat seolah benang sutra di rangkai di angkasa Ranu Kumbolo pagi itu. Rumput hijau, tanah merah kehitaman, air memantulkan warna hijau pohon- pohon yang berdiri gagah di sampingnya serta ilalang hampir mati menambah warna keemasan semakin lengkap keindahan warna pagi Ranu Kumbolo. Pantulan sinar mentari di balik air Ranu di temani kabut- kabut tipis berterbangan seolah mengangkat air Ranu.
 
GoproHero3 Action
Hari semakin hangat pantulan cahaya matahari menerangi teduhnya payung kabut pagi itu. Bersiap melanjutkan perjalanan menuju Kalimati camping ground selanjutnya. Dalam mitosnya Tanjakan Cinta konon mempunyai keampuhan bahwa barang siapa mampu melewatinya tanpa berhenti dan tanpa memalingkan muka kebelakang sambil memikirkan orang yang di sayangi maka akan berjodohlah dengan orang tersebut. Bagaikan robot- robot usang dengan beban segede almari es di punggung kami lalui Tanjakan Cinta itu perlahan demi perlahan entah mereka sambil memikirkan siapa itu bukan urusana saya, namun yang pasti saya hanya tetap berjalan perlahan ke atas dengan tujuan agar cepat sampai di atas bukit.
————————————————————————————————————————
Disambut oleh padang rerumputan kering berwarna coklat keemasan memudar memberikan kesan gersang yang sangat. Lebih dari 2 hektar tanah lapang seluas itu hanya di tumbuhi oleh rerumputan yang sudah mengering dan kami menyebutnya Oro- oro Ombo. Kurang dari satu jam kami sudah selesai melewati padang rerumputan mengering ini. Di jamu oleh gerombolan Cemara- cemara besar jenis pinus dalam satu area yang sangat luas. Karena di dominasi oleh pohon jenis Cemara Pinus inilah maka orang- orang menyebutnya Cemara Kandang. Beberapa ada yang sedang shalat ada juga yang sedang berfoto dengan background oro-oro ombo serta sedang makan snack ringan. Melewati jajaran rapi pohon Cemara di sepanjang jalan setapak menuju Pos selanjutnya teduh dan adem yang kami rasakan. Di bawah rindang pepohonan bertiup sepoi angin semilir merayapi kulit rasa capekpun sedikit tak terasa meskipun jalanan setapak selalu menanjak. Satu jam sudah tak terasa di bawah rindangnya pohon Cemara dan berakhir dengan vegetasi baru yaitu bunga edelweis menunjukkan bahwa kami sudah tiba di pos Jambangan. Berbentuk seperti halaman agak luas dengan di pagari oleh tumbuhan sedang serta bersandingan dengan bunga edelweis membuat pos Jambangan ini nyaman untuk bersantai terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke camping ground yaitu Kalimati.
Bukit Cinta Semeru

Sementara yang lain langsung menuju Kalimati saya dan Rusby mampir sebentar ke Sumber Mani untuk mengambil air. Tiga puluh menit jika di tempuh dari perbatasan  Kalimati dan Jambangan. Air yang tidak besar namun selalu ada memenuhi kebutuhan pendaki yang camping di Kalimati. Jernih dan dingin itulah sumber mata air di Sumber Mani. Dengan 6 botol air mineral 1,5 liter sepertinya cukup untuk kebutuhan kami bertujuh selama semalaman. Sementara tenda selesai berdiri teman saya yang lain sudah siap istirahat agar dini hari nanti kuat mendaki ke puncak Mahameru. Saya sendiri masih asik dengan kamera saya bereksperimen merekam indahnya taburan bintang- bintang malam.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22:00 WIB sebaiknya saya juga ikut tidur agar pada pukul 24:00 nanti saya sudah segar dan fit untuk menaiki puncak Mahameru.

 

Milkyway Kalimati Semeru

Tibalah saatnya yaitu alarm dari handphone  tante Rina berdering membangunkan kami semua, sebentar bersiap dan menyantap sedikit makanan agar kami punya tenaga. 00:00 berdoa memohon kepada Tuhan agar kami semua di beri kekuatan dan kelancaran dalam mendaki puncak Mahameru. Saya berpesan kepada ke enam teman saya ” Setelah ini hanya hati kalian masing- masing yang akan mengantarkan kalian sampai puncak “. Mahameru bukan puncak gunung biasa, Nyali dan Fisik yang kuat aja tidak cukup, namun juga butuh mental yang tebal serta hati yang kuat.

Awal pendakian dari Kalimati menuju Arcopodo dengan perkiraan lama pendakian adalah 2 jam ternyata menyusut hanya menjadi satu jam, saya sempat berfikir wah bisa nyampai puncak cuma 3 jam nih. Kemudian setelah istirahat 15- 20 menit di Arcopodo pendakian kami lanjutkan menuju batas Vegetasi Terakhir dengan waktu tempuh 45 menit. Pada dua jam pertama kekompakan masih terjaga dan kami semua masih dalam satu barisan rapi menuju Puncak Mahameru.Beberapa menit kemudian suasana sudah berubah di iringi semakin menampaknya guratan cahaya merah matahari pagi. Dua orang yaitu Husna dan Wiwik memilih menyerah dan berbalik arah menuju camp Kalimati. Dengan semangat berkobar Tanti dan Uri sudah di barisan depan dengan sisa- sisa tenaganya. Sedangkan saya masih setia menemani Rusby dan Tante Rina di 2/3 jalur menuju Mahameru. 09:25 angin ssudah semakin tak menentu membuat semburan ledakan wedus gembel tak beraturan arah kemana. Sekaligus pertanda bahwa keadaan di puncak Mahameru sudah waspada dan sebaiknya para pendaki mulai turun. Saya cuma sekedar mengingatkan dan memberikan info tentang status Mahameru dan akhirnya Tante Rina memilih setuju dengan saya turun ke Kalimati. Rusby menyusul Uri dan Tanti tetap melangkah keatas hingga ke puncak Mahameru.  Waktu tempuh dari batas vegetasi terkahir ke puncak adalah 6,5 jam. Di puncak pun ketiga teman saya tidak bisa berlama- lama sekiranya hanya 5 menit mereka langsung turun menyusul saya. Dengan waktu tempuh hanya 2 jam dari puncak menuju arcopodo merupakan waktu yang sangat drastis jika di banding waktu naik. Dalam perjalan turun saya tak sekedar menuruni jalur summit attack saja namun sekalian sambil menyelam saya ambil bahan buat timelapse. Setelah dapat 3 kali timelapse rupanya Uri dan Rusby sudah di belakang saya menuju turun ke Kalimati. Setelah merayu Uri untuk membawakan tas kamera saya akhirnya saya turun duluan lari menuju Kalimati agar bisa menyiapkan makanan pengganjal bagi temen- temen saya yang sedang perjalanan turun. Arcopodo – Kalimati akhirnya saya lahap dalam 30 menit saja.

 

Sunrise Semeru
Sunrise Mahameru

Alhamdulillah setelah rehat sejenak saya segera menyiapkan mie goreng dan mie rebus untuk teman teman yang sedang perjalanan turun. Cukup beberapa puluh menit istirahat dan bercakap- cakap kami sudah harus siap meninggalkan Kalimati menuju Ranu Kumbolo. 14:00 kami sudah meninggalkan tanah Kalimati. Waktu tempuh dari Kalimati sampai di Jambangan 45 menit. Perjalanan di bawah rindang pohon cemara lumayan bisa menghemat jatah air minum karena suasana yang adem tidak membuat kami cepat haus. Tak terasa jauhnya Jambangan menuju Cemoro Kandang dapat kami tempuh dalam 60 menit. Sebelum memasuki Oro-oro Ombo kami istirahat sejenak setelah melewati turunan panjang dari pos Pohon Penari Malam hingga Cemoro Kandang. Dengan bonus treking dari Cemoro Kandang hingga dibalik Tanjakan Cinta yang datar memanjang lumayan memberikan keringanan bagi dengkul kami. Karena tak mau tergesa- gesa dan berakhir dengkul gagal maka lama perjalanan bertambah jika di bandingkan saat berangkatpun tak menjadi masalah. Cemoro Kandang – Ranu Kumbolo dapat kami tempuh dalam 60 menit di sambut dengan mendirikan tenda agar tidak kemalaman.

Ranu Kumbolo
Pohon Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo

Seperti biasanya selesai mendirikan tenda saya sibuk sendiri merekam keindahan bintang diatas tenda kami. namun dingin dan capek saat di Ranu Kumbolo memaksa saya untuk segera tidur. Oke saya tidur kesorean, baru pukul 19:30 sudah meringkuk dalam sliping beg. Alhamdulillah pagi hari badan lebih fit dan segar bangun pagi seusai shalat subuh semangat hunting sunrise langsung membara. Namun apa jadinya jika sang dewa cahaya yang di tunggu tak menampakkan wajahnya hanya karena terhalang oleh kabut- kabut. Kabut tebal masih menyelimuti kami semua yang ngecamp di Ranu Kumbolo hingga pukul 08:xx WIB. Namanya juga manusia pasti akan ada hasrat untuk sekedar membuat kenangan dalam bingkai foto. Ada sepertinya jika 2 jam lebih kami habiskan untuk berfoto- foto kesana kemari.

Agar tak kemalaman sampai di Ranu Pane kami berangkat menuju Ranu Pane meninggalkan Ranu Kumbolo pukul 11:00 kami tinggalkan Ranu Kumbolo. Sembari menikmati indahnya Ranu Kumbolo dari berbagai penjuru sudut mata kami berfoto- foto disana di mari. Tak terasa mata di manjakan oleh eloknya Ranu Kumbolo kami sudah tiba di Pos 4 dalam waktu tempuh 45 menit. Panas terik matahari tanpa teduhnya dedaunan rindang pepohonan membuat kami mudah haus dan harus banyak berhenti untuk sekedar menenggak air segar. Lanjut dari Pos 4 menuju Pos 3 dengan medan yang masih agak terjal dan naik turun membuat trek terlama yang kami tempuh selama perjalanan turun Semeru. 60 menit melewati jalur setapak naik turun debu berterbangan batu batu tertata tak beraturan lumayan sebagai hiburan sepanjang jalan. Sesampainya di Pos 3 sekalian mengurangi beban dalam kantong saya melahap satu butir apel mampu mendongkrak tenaga hingga pos 2. Jadi ingat dalam film dragon ball dengan adanya satu butir kacang dewa kekuatan para saiya langsung menanjak tajam, begitu pula yang saya alami dengan sebutir apel dewa saya langsung menggeber jalur pos 3 hingga pos 2 tanpa istirahat dengan waktu 40 menit. Karena masih ada waktu untuk shalat dzuhur maka kami putuskan shalat dzuhur dan ashar di pos 2, istirahat, shalat makan snack sekiranya 30 menit lebih. Karena Wiwik dan Tanti sudah duluan dan Tante Rina, Uri serta Husna minta di tinggal maka 30 menit saya di belakang Wiwik dan Tanti kemudian di susul di belakang saya 10 menit ada Rusby. Mulai dari sini waktu tempuh sudah memakai durasi masing- masing. Pos 2 menuju Pos 1 rupanya terlalu dekat jika harus lari, tidak sampai 10 menit saya sudah melewati Pos 1. Dilanjut geber dari pos satu di campur setengah berlari 20 menit saya sampai di Landengan Dowo. Tidak perlu lama- lama dan banyak cerita karena memang jalur Landengan Dowo hingga Basecamp cuma begitu saja. Menyusut menjadi 15 menit saya libas jalur Landengan Dowo hingga Basecamp Ranu Pane.

Setibanya di Ranu Pane saya langsung memesan Es Teh Manis segarrr… mantap mampu mengaliri kerongkongan saya yang mengering akibat tenaga di booster dari Pos 1 hingga Ranu Pane.
jika di ringkas maka rincian perjalanan adalah sebaga berikut.

Ranu Pane – Pos 1 : 45 menit
Pos 1 – Pos 2 : 30 menit
Pos 2 – Pos 3 70 menit
Pos 3 – Pos 4 75 menit
Pos 4 – Ranu Kumbolo : 30 menit
Ranu Kumbolo – Cemoro Kandang : 60 menit
Cemoro Kandang – Jambangan : 60 menit
Jambangan – Kalimati : 30 menit
Kalimati – Arcopodo : 60 menit
Arcopodo – Vegetasi Terakhir ( Cemoro Tunggal ) : 45 menit
Vegetasi terakhir ( Cemoro Tunggal ) – Puncak Mahameru : 6,5 jam

Puncak Mahameru – Arcopodo : 2 jam
Arcopodo – Kalimati : 30 menit
Kalimati – Jambangan : 45 menit
Jambangan – Cemoro Kandang : 60 menit
Cemoro Kandang – Ranu Kumbolo : 60 menit
Ranu Kumbolo – Pos 4 : 45 menit ( * bonus foto- foto )
Pos 4 – Pos 3 :60 menit
Pos 3 – Pos 2 : 40 menit
Pos 2 – Pos 1 : 10 menit
Pos 1 – Landengan Dowo : 20 menit
Landengan Dowo – Ranu Pane 15 menit

Ternyata saya hampir lupa kalau perjalanan masih berakhir :P, judulnya aja jelajah liar Mahameru & Bromo, masak Bromonya belum di ceritain.

Oke langsung saja lanjut ke Bromo, jadi sore itu setelah turun dari Semeru sampai di Ranu Pane sekitar jam 15:00 kami bersih- bersih badan seadanya kemudian pukul 17:00 kami meninggalkan Ranu Pane menuju Bromo. Tepat di belakang Hotel Lava View Lodge kami mendirikan tenda agar lebih deket untuk menikmati keindahan Sunrise. Seperti yang sudah terjadi yaitu ketika sampai di TKP kami langsung mendirikan tenda karena tak kuat menahan dingin terlalu lama. Selesai mendirikan tenda tak seperti biasanya teman teman langsung tidur eh malah autis masing- masing karena ternyata sinyal handphone di kawasan Bromo ini sangat kuat. Sekiranya 2 jam kami sibuk masing- masing dengan Handphone kemudian bosan dengan sendirinya pun akhirnya tidur menjadi pilihan terakhir.

Milkyway Bromo

Pagi kali ini saya agak terlambat bangun dan segera menjemput mentari. Bukan batere kamera yang saya charge penuh eh malah tersedot balik oleh power bank rupanya, karena itulah saya ribut dan sibuk sendiri nyiapin ini itu bukannya segera keluar dan menghampiri mentari. Mereka yang siap sudah berada di depan matahari masing- masing dengan posisi terbaik mereka. Saya masih setia dengan tripod dan si 550D dengan di persenjatai lensa wide 10-22 mm. Arah menembak langsung ke arah matahari dengan beberapa framing dan foreground pepohonan kecil di samping kanan kiri.

Gn. Bromo dan Batok

Puas menikmati seberkas sinar mentari pagi dengan disejukkan angin pagi pegunungan kami berlanjut kembali ke tenda untuk sarapan sebelum akhirnya berangkat menuju seruni point. Seruni point terletak tak jauh dari lokasi pengambilan matahari pagi, dengan jeep kami dapat menempuhnya hanya dalam 15 menit. Sekedarnya mengambil foto dan dokumentasi kami lanjut menuju Kawah Gunung Bromo. Kali ini Bromo benar- benar menunjukkan keangkuhan dan keganasannya. Terik matahari yang mulai membakar kulit di sertai tiupan angin gunung yang mengiris kulit serta di bumbui badai pasir menghembus dari segala penjuru. Semua berpadu dalam bisikan pasir- pasir Bromo membuat kami tak sadar bahwa semua itu akan merusak kulit kami. Hampir 2 jam kami habiskan di sekitar Kawah Bromo ini. Di tengah- tengah penjelajahan kami di kawasan Kawah Bromo rupanya sedang ada acara pengibaran bendera Merah Putih Raksasa. Sayang bukan berkibar berdiri namun tak ada tiang untuk mengibarkan alhasil cuma sekedar di kibarkan tertidur telentang oleh tangan- tangan manusia.

video Semeru

You may also like...

2 Responses

  1. cece says:

    baru baca, bagus bgt postingannya mas…
    dan jadi timbul hasrat buat naik -.-

  2. admin says:

    terima kasih kaka 😀
    ayo naik gunung 😀

Leave a Reply