[ MALANG ] Misteri Kabut Semeru

Jogja 14 juni 2013 pukul 10.00 pagi tiba di terminal Jombor, suasana tak begitu ramai namun juga tak sunyi sepi hanya kendaraan beberapa yang berlalu lalang lewat di depan pandanganku. Sebuah bus mikro berwarna hijau bertuliskan trans Jogja mengantarkan dari terminal Jombor menuju Malioboro. Saya dan adek saya menemui kakak sepupu yusuf namanya serta ghani teman lama di kampus, janjian bertemu di depan DPRD Prov. Terpikir untuk memesan tiket kereta perjalanan ke Malang di stasiun Lempuyangan. Berakhir dengan mendapat 4 tiket kereta malioboro expres menuju malang. Pulang menuju rumah saudara Ghani untuk melengkapi logistik dan packing. Belum selesai packing sudah di goda oleh bisik- bisik tentang bukit diatas candi Borobudur. Pukul 15.xx kami sudah melesat menuju bukit- bukit diatas awan candi Borobudur. Selama 1jam perjalanan kami di hidangkan oleh hamparan luas persawahan hijau segar dan beberapa hutan rindang memayungi jalanan. Semakin dekat dengan tujuan jalanan juga semakin menantang, jalan sempit berliuk naik turun mampu memporakporandakan tulang belulang.
selesai menikmati kabut-kabut dan awan lebat penuh misteri di atas tanah Borobudur kami segera balik ke rumah ghani untuk packing dan berangkat menuju stasiun Lempuyangan. Dengan kereta malioboro expres selama 7 jam kami tiba di stasiun malang baru. Rampung shalat subuh tiba- tiba datang sopir angkot menawarkan jasa mengantarkan langsung ke pasar Tumpang. Setelah nego tanpa alot dan ribet sopir pun mengiyakan tawaran kami dan segera tanpa babibu kami sudah sampai di pasar Tumpang. Menunggu sebentar sambil sarapan mengisi perut yang sudah merindukan nasi kami berombongan di berangkatkan dengan truck terbuka menuju Ranupane.

Beres dengan perijinan dan tetk bengeknya, dan ternyata memang solotreking tidak di perbolehkan. The real of pendakian kami mulai pada 11.30 WIB dari Ranupane dengan jalan beraspal sekita 500m. Seusai melintasi perkebunan kentang dan kubis kami di hadapkan oleh jalur berpaving muat untuk satu orang hingga pos 1. Perjalanan dari basecamp Ranupane menuju pos 1 masih biasa saja dan di tempuh dengan lama 1,5jam. Selesai istirahat makan siang dan ibadah perjalanan pun harus di lanjutkan agar tidak terlalu malam sampai di Ranukumbolo. Tak lama pun kami sudah tiba di pos 2 dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Kabut- kabut penuh misteri datang menghampiri kami ketika mulai meninggalkan pos 2 hingga Ranukumbolo. Jalanan setapak hampir tenggelam oleh rerumputan pun makin lenyap oleh kehadiran kabut-kabut tipis terjalin rapi. Sempat menyingkir sebentar itu kabut- kabut penuh misteri dari atas air Ranukumbolo namun tak beberapa saat saya mengeluarkan kamera merak turun dengan jumlah kawan yang lebih. Nafsu memotret langsung menurun dan segera meninggalkan saja itu genangan air abadi di Ranukumbolo.

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo

Memasuki zona waktu senja dan petang saya mencoba mengayuhkan kaki cepat- cepat agar tidak terlalu malam tiba di kalimati. Menaiki tanjakan cinta yang konon ceritanya siapa yang mampu menanjak tanpa melihat kebelakang maka gadis yang di pikirkannya akan menjadi jodohnya. Berpapasan dengan seorang gadis berkerudung ungu muda bahkan lebih cantik dari “Arinda” membuat saya tidak konsen dalam menanjak dan akhirnya lupa ternyata saya sudah menengok ke belakang.  Berakhir dengan tanjakan cinta saya berhadapan dengan turunan menjelang oro-oro ombo yang lumayan curam dan membuat dengkul bekerja ekstra. Kabut tebal semakin menggelapkan jalan setapak menuju cemoro kandang pos setelah oro-oro ombo. Berselimutkan kabut- kabut rumput raksasa berwarna ungu itupun semakin terlihat mistis dan menyeramkan. Berbeda ketika tanah seluas kira-kira 2 hektar ini pada terang hari yang indah berwarna ungu cerah begitu membuat mata terpenganga. Selesai meninggalkan lautan rumput raksasa berwarna ungu kami di sambut oleh pohon- pohon cemara raksasa di kandangkan dalam kerangkeng alam raksasa. Pukul 18:00 WIB kami memasuki kawasan pohon cemara raksasa ini, istirahat beberapa menit kemudian kami melanjutkan ke pos berikutnya yaitu Jambangan.Beratapkan daun- daun pohon cemara sesekali bocor tersinari oleh rembulan yang membuat malam semakin terasa dingin. Tak cuma rembulan yang menemani suara desah angin berkabut tipis serta nyanyian bintang membuat semakin mantap. Naek- naek menyusuri jalanan setapak dengan sorotan dalam genggaman dan sesekali jalanan turun terjal dan curam membuat harus ekstra hati-hati. Tak perlau terlalu lama beristirahat karena sudah malam maka akan semakin dingin ketika terlalu lama berdiam diri. Lanjutkan saja langkah yang tersisa dan akhirnya tak lama pada pukul 19.xxWIB kami sudah menginjakkan kaki di pos Jambangan.Jambangan dalam benak saya adalah kubangan air yang luas atau saya kira jamban besar ternyata adalah sebuah halaman luas di tengah hutan gunung. Dengan jalan yang landai dan lega membuat perjalanan dari jambangan menuju kalimatai lebih cepat. Namun sebelum gerbang masuk hamparan luas Kalimati kami di hadapkan oleh jalanan menurun beberapa kali dan curam. satu turunan kemudian pengkolan dan sedikit naik kemudian kembali turun dan membelok lagi dan turun dua kali dan kami sampailah di pos Kalimati.pukul 20:00 kami sudah berisik mendirikan tenda sedangkan samping kanan kiri dan depan belakang sudah pada tidur bersiap untuk pendakian puncak pada dini harinya. Selesai kami mendirikan tenda di susul memasak air panas untuk membuat sereal sebagai pengisi perut sementara. Capek perut lapar dan ngantuk sudah beradu akhirnya tidur tak terhindarkan. 22:00 hingga pukul 01:00 dini hari sepertinya belum cukup untuk menggantikan longtravel dari ranupane selama 8 jam dan mempersiapkan tenaga untuk pendakian menuju puncak 3676mdpl. Namun apa boleh di kata jika waktu sudah berdetak maka kami tak dapat menghentikannya dan kaki pun mulai bergoyang maju untuk menuju 3676mdpl. Bersama 4 orang dari tenda sebelah kami menyusuri jalanan setapak bekas jejak-jejak kaki pendaki sebelumnya yang melintas. Tak terasa di bawah pohon yang tinggi dan rindang selama 2 jam kami sudah sampai di Arcopodo *namun tidak ada arca di sini. Bertemu dua tenda lumayan besar dan kiranya muat untuk 10 orang di Arcopodo. Tenda yang sengaja di dirikan di sini adalah untuk mengantisipasi pendaki yang tak mampu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Tak lama mendengar mas penunggu tenda dengan badan tinggi kekar dan tegap ini mengungkapkan bahwa di dalam ada 3 wanita yang tak kuasa melanjutkan melahap ganasnya medan menuju 3676mdpl. Setelah cukup beristirahat dan mendengar cerita kami bertiga pun siap untuk melahap ganasnya gundukan pasir raksasa, angin bertiup dingin, dan pekatnya gelap malam. Tak jauh dari Arcopo kira- setengah jam perjalanan kami bertemu dua orang yang sudah lemas tak mampu melanjutkan ke puncak, mereka bilang sudah tidak tahan dengan dinginnya dan kaki semakin lemas. Setengah jam dari tempat kami bertemu dua orang lemas itulah di sebut cemoro tunggal atau batas vegetasi terakhir. Istirahat sejenak mengumpulkan tenaga karena melihat keatas kami tau bahwa jalur sangat curam. Sekiranya cukup memulihkan tenaga maka semangat membara sudah mampu membakar dingin angin mahameru.

Start dengan modal semangat membara pada 06:00 dari batas terakhir vegetasi. Perlahan ayunan kaki 10-20 meter masih belum terasa bahkan dengkul kiri yang sudah cidera pun belum “mbengok” minta berhenti. Seperempat jalur perjalanan menukik tajam keatas sudah kami tempuh namun puncak belum juga terlihat jelas. Masih dengan semangat yang mulai meredup karena bertemu banyak orang yang menyerah memilih kembali turun karena alasan dingin lemas dan tanjakan tak habis-habis katanya. Dalam hati cuma terus berkata “AKU MAMPU” sambil mengayunkan kaki dan tripod yang kira-kira beratnya 2 kg. Kalau di ingat ya rata-rata kecepatan perjalanan adalah 10kali melangkah 5 menit berhenti *kapan sampainya yah???. Baru 1/3 perjalanan menuju puncak hati semakin redup antara turun atau naik hahahaha, namun semangat dalam jiwa tetap membakar agar tetap naik meskipun lama. Dua jam lebih sudah waktu yang kami habiskan namun ternyata kami belum juga dapat setengah perjalanan. Tanjakan pasir yang terjal dan curam memang membuat berat pendakian. Bekas pijakan orang dan beberapa jalur yang pasirnya padat sangat membantu karena pijakan tidak longsor jadinya istilah naik 1 turun 1/2 tidak berlaku. Sunrise yang sudah meninggi dan berubah menjadi terik tak saya hiraukan karena sudah mustahil buat saya menikmati sunrise di atas puncak Mahameru. Setidaknya saya cukup menikmati sedikit semburat merah di tengah jalur antara cemoro tunggal dan puncak. Sejam lagi waktu yang kami lahap ternyata puncak sudah semakin jelas terlihat, kira- kira 100 langkah lagi saya sampai. Semakin dekat dengan puncak jalur agak- agak melandai sedikit jadi lumayan untuk menaikkan speed. Pukul 10:00 akhirnya kaki mendarat di puncak Mahameru 3676mdpl dengan keluhan dengkul kiri positip cidera dan jari jari kaki bengkak.

reality vs expectation
im in the java highest land
i love Boyolali

Sorry i have no good view in the peak, so my selfportrait im put on this.

Oke lanjut setelah tidak lama di puncak karena semakin siang racun yang keluar dari letusan asap belerang semakin kuat maka pendaki dilarang berlama-lama di puncak. Sekiranya cukup 20 menitan kami bertiga segera turun saja mencari selamat daripada anu terjadi hal hal yang tidak anu.

Perjalanan turun dari puncak menuju batas vegetasi jauh lebih cepat daripada waktu naiknya, kira tidak ada satu jam ya kurang lebih 45-50 menit kami sudah ready to go lagi di Cemoro tunggal. Dari Cemoro tunggal harapan pertama yang ingin segera sampai adalah Arcopodo, dengan dengkul yang sudah cidera waktu tempuh menuju Arcopodo hampir sejam sama dengan waktu naik padahal jalur menurun namun karena dengkul sudah tak ada daya apa boleh di paksa.
Turun dari  Arcopodo dengan dengkul yang semakin melemah dengan medan menurun tanpa bonus jalur landai hingga gerbang pohon dapat di tempuh selama hampir 2 jam. Beruntunglah saya dan Mas Yusuf yang datang setelah Ghani tiba di kalimati dan menyiapkan apel segar di susul oleh mie rebus panas nikmat. Pukul 14:00, Kalimati tempat kami ngecamp selama 3 jam sebelum summit attack menjadi saksi bisu segala kejadian yang menjadi kenangan nantinya. Cukup 1 jam istirahat kemudian packing total dan bersiap meninggalkan Kalimati menuju Ranukumbolo untuk menginap malam kedua.

Start dari Kalimati sudah menjelang petang kiranya pukul 16:30 kami meninggalkannya. Sedikit terseyok langkah kaki saya tapi perjalanan tetap harus berlanjut. Pos pertama yang sangat kami harapkan segera terlihat adalah Jambangan. Well done tak ada satu jam kami sudah merehatkan badan sejenak di pos Jambangan.Tak berhenti lama kami di pos Jambangan karena matahari sudah meninggalkan maka tak ada waktu untuk terlalu bersantai. Berharap segera bertemu dengan si kandang cemara raksasa lagi. Jika di kira-kira adalah hampir sejam kami menapaki jalanan kecil penuh kegelapan, senterpun sudah mulai meredup. Menghela nafas panjang di atas tubuh cemara yang telah tumbang dan telentang. Semakin gelap malam semakin sedikit pula pasokan oksigen maka dari itu kami memilih lebih santai sambil menikmati setetes air segar. Limabelas menit tak terasa sudah kami habiskan selain udara dingin semakin merasuk ke dalam kulit dan tulang rasa capek kami juga ingin segera di istirahatkan. Menyibak padang rumput ungu perdu yang telah terbelah bagaikan tergilah oleh roda-roda. Jalanan mendatar dan panjangpun tak terasa cuma 30 menit kami lahap, namun di depan sudah menanti tanjakan terjal serta turunan tanjakan cinta. Oh my God dengkul yang sudah cidera harus di hajar lagi… meskipun carier segede kulkas sudah di bantu di bawakan adek saya namun dengkul ini rupanya sudah tak mampu menopang tubuhku sendiri. Perlahan terseret-seret akhirnya yang harusnya dengan lari cuma 15 menit dapat tiba di Ranukumbolo menjadi 30menit lebih karena harus meraba jalanan yang curam, sekenanya salah menapak dan terpeleset bisa fatal buat dengkul.

Ranukumbolo pada malam kedua di sinilah kami mendirikan tenda kemudian segera istirahat. Harapan dengkul sembuh di pagi harinya ternyata belum terkabul, namun perjalanan tetap harus di selesaikan. Masak seadanya dan makan kemudian bersih-bersih badan serta diakhiri fotofun bersama.

 

Ghani- Ahsin- Saya- Ucup

Setengah Sebelas Siang mungkin lebih beberapa detik kami meninggalkan tempat yang akan menjadi saksi sekaligus sejarah besar. Ranu Kumbolo pada ketinggian 2300mdpl dengan hamparan danau air tawarnya yang begitu segar terus akan tersimpan dalam ingatan. Tak lama kami berjalan sudah sampailah di pos 4 dan disambut oleh gerimis serta kabut tebal menuruni bukit. Sejenak kami berhenti sambil melepaskan canda tawa di tengah dingin dan gelap kabut putih kehitaman. Terdengar bunyi crek crek shutter dari kamera mengiringi gelak canda tawa kami. Entah sepertinya sudah 15 menit kami berhenti dan dingin makin terasa memang sebaiknya kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 11.00 sekiranya lebih beberapa menit kami sudah meninggalkan pos 4 dan menuju pos 3. Jalanan becek bekas hujan sedari pagi membuat langkah agak melambat karena harus hati- hati agar tidak terpeleset. Masih banyak pula kami temui di sepanjang perjalanan menurun para pendaki. Saling sapa dan aruh sepertinya tidak perlu mengenal terlebih dahulu karena di gunung kita semua saudara. Jalanan mulai menurun agak curam dan perlu ekstra hati – hati, rupanya kami sudah sangat dekat dengan pos 3. Di pos 3 kami disambut oleh pendaki yang akan naik dan salah satu porternya. Porter ini tugasnya adalah membawakan beberapa barang yang tidak terbawa oleh pendaki sehingga meringankan beban pendaki. Biasanya porter ini mendapat imbalan jasa 150.000 perhari. Dalam satu bulan rata- rata porter mampu membawakan barang pendaki sebanyak 4-5 kali pendakian.

Sambil ngobrol dengan porter dan 3 pendaki dengan kamera D90nya itu kami sembari menghabiskan sisa apel yang mampu mengganjal perut lapar. Sudah tidak ada sisa makanan bagi kami selain apel dan mangga muda. Air yang akan menggantikan makanan ketika apel dan mangga pun habis. Lanjut langkah kaki mengayun hingga pos 2 pada pukul setengah dua kami baru sampai dan seperti di pos 4 dan 3 yaitu beristirahat sejenak. Karena lapar dan sisa makanan kami adalah mangga muda maka apa boleh buat kecut manis kecut pun kami sikat. 15- 20 menit waktu yang cukup lama untuk kami berleha-leha sedangkan senja sudah menanti kami di ujung gerbang pintu semeru. Tanpa mengingat capek kami terus menggenjot tenaga kami hingga tiba di pos satu dan di sambut oleh rombongan pendaki yang akan naik juga. Masih sekitar pukul 3 sore lebih beberapa menit akhirnya kami menginjakkan kaki di pos 1 dan kabar baiknya pos satu maka sudah dekat dengan basecamp ranupani. Ternyata lumayan lama kami di pos satu hingga hampir satu jam kami istirahat. Pukul 15.40 lebih beberapa detik kami baru mulai melanjutkan perjalanan menuju ranupani. Tak seperti perkiraan yang kami bayangkan bahwa perjalanan akan lama ternyata pukul 16.30 sekian detik kami sudah di gerbang pintu penyambutan semeru. Dan kami telah selesai menyelesaikan misi kami menaklukhkan puncak Mahameru.

Namun sedikit cerita seru kami masih belum selesai, dimulai ketika sampai ranupani sudah menjelang magrib kami sudah belingsatan bingung mau naik apa kalau truck ke Tumpang sudah tidak ada. Beres repacking dan sekedar membasahi kerongkongan kami berempat berjalan menuju lapangan dimana yang di gunakan sebagai tempat parkir truck dan jeep. Alhamdulillah masih ada beberapa truck yang akan mengangkut pendaki turun gunung. Kami masuk ke antrian truck ke dua, jadi ya sabar menunggu beberapa puluh menit menunggu jeep yang sudah parkir di depan berjalan. Perjalanan senja menuju Tumpang akhirnya di mulai dengan hiasan langit memerah seolah matahari membakar awan awan putih. tak sampai 2 jam kami sudah tiba di Tumpang di sambut keramaian pasar Tumpang dengan segala hiruk pikuk dan hiburannya. Karena perut sudah sangat lapar kami makan nasi pecel ayam goreng terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali ke jogja. Selesai makan kami segera mencari angkot untuk menuju terminal arjosari, namun apa boleh kata kalau rupanya penumpang menuju Arjosari sudah tidak ada dan para pendaki pun sudah bersih dari jalanan pasar Tumpang. Menunggu hingga pukul 23:00 kami masih di tempat ngetem angkot berharap ada pendaki yang tersisa agar bisa diajak share cost menuju terminal Arjosari. Akhirnya saya menyerah dan bertanya kalau kami berempat saja yang berangkat ke terminal Arjosari berapa biayanya? “150 ribu dek jawab supirnya”. Turun gunung duit menipis tidak cukup kalau memaksa dengan harga segitu sampai ke Arjosari, akhirnya saya menelpon Pak Supri ( 0812 4908 1890 ) supir angkot trayek St. Malang – Termn. Arjosari untuk di jemput dan diantarkan ke Terminal Arjosari. Karena kasian akhirnya pak Supri memberikan harga 60 untuk kami berempat sampai di terminal arjosari. Setibanya di terminal Arjosari kami langsung disarankan naik Engkel menuju bungur asih karena bus Arjosari – Bungur asih sudah berangkat terakhir jam 23:00. Setelah terombang ambing di Tumpang berjam- jam dan mendapat hiburan dangdut koplo super kenceng di Engkel Arjosari- Bungur asih di Terminal Bungur asih kami di hadapkan oleh calo- calo serta preman terminal. Karena saya beberapa kali sudah pernah ke Terminal ini saya tau apa yang harus saya lakukan, cukup mereka bertiga saya suruh diam dan saya yang menjawab para Calo dan Preman. Berharap mendapat tumpangan bus Mira malam itu, namun apa boleh di buat jika ternyata 3 urutan parkir terdepan yang terlihat adalah bus Sumber Group *Nama baru bus Sumber Kencono.

foto diambil dari mbah GOOGLE * http://1.bp.blogspot.com

Yasudah lah jika kami harus naik Sumber Kencono, Bismillah banyak berdoa agar dalam perjalanan Surabaya- Jogja ini kami selamat sampai tujuan. Partner saya bertiga Ghani, Ahsin, Yusuf masih tidak percaya bahwa kami naik Bus Sumber Kencono. Saya sendiri juga masih merinding jika mengingat reputasi Bus ini sering terjadi laka- lantas. Dengan predikat bus yang merajai jalanan Surabaya- Jogja ini membuat pengendara lainnya harus berhati- hati dan mengalah jika masih ingin selamat. Bus berjalan sejam pertama masih belum terasa adrenalin dan pemacu senam jantungnya, karena rupanya masih sambil mencari penumpang di sekitar Surabaya. Namun setelah lepas dari terminal Madiun bus sudah mulai pencet klakson dan sein nyala kanan. Saya yang sudah tertidur pun terbangun karena sempat terjadi rem mendadak dan mengagetkan beberapa penumpang yang sadar. Madiun – Sragen bus sudah tidak lagi bersahabat hantam kanan banting kiri sepertinya sudah menjadi mainan bagi supir. Tiba di perbatasan Sragen – Ngawi saya di sambut oleh padang sawah dan belantara kebun di selimuti kabut sepertinya sangat terasa dingin di luar. Namun lamunan sesaat buyar karena suara klakson sangat kencang dari bus dari arah berlawanan kami memaksa bus yang kami tumpangi mengalah dan membanting setir ke kiri. Mulai matahari memburatkan cahayanya di langit Sragen hingga Kartasura membuat bus semakin terkendali karena kondisi jalan yang macet. Kemacetan kembali kami temui di jalur Klaten – Jogja mebuat bus benar- benar merayap tak berkutik bagaikan Singa di copot taringnya. Sampai di gerbang masuk Jogja kami disuruh bersiap agar duduk didepan supaya lebih mudah turun dari bus. Sambil menunggu sampai di halte bus TransJogja terdekat saya sempet ngobrol dengan supir dan kernet, katanya 5 tahun yang lalu ketika masih menggunakan bus lama mereka bisa menempuh perjalanan Surabaya- Jogja cuma 5 jam. Kini karena faktor macet dan bus yang tidak bisa diajak ngebut mereka rekor tercepat adalah 7 jam perjalanan Surabaya- Jogja.
Semoga Supir Sumber Kencono mulai tobat dan mengutamakan Keselamatan Penumpang 😀

foto diambil dari lensaindonesia.com

 

You may also like...

Leave a Reply