Mudik Sumatera, Boyolali-Padangsidimpuan [Part 1]

“Jarang-jarang nih dapet izin dari Bos,, bismillah kita mudik aja yokkk libur natal tahun baru ini”, kata suami.

Jujur sebenarnya batinku masih ragu karena Hawqal masih kecil (baru 6bulan kala itu). Tp melihat antusias suami, akhirnya aku bismillah aja. Qodarullah, pas mendekati hari keberangkatan Hawqal malah sakit (demam & diare). Akhirnya dibawa ke dokter dan alhamdulillah demamnya menurun. Kami pun “bismillah” berangkat dari Boyolali menuju Padangsidimpuan tgl 22 Desember 2020.

Perjalanan dimulai pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB. Aku, Suamiku, Hawqal, Ibu mertua dan Rezky temannya suamiku yang tujuannya ke Pasaman Barat, Sumatera Barat serta ceweknya Rezky yang ikutan nebeng sampai Jakarta. Hari yang cerah menuju mudik pertamaku Jawa-Sumatera melalui jalan darat. Awal pemberhentian di Salatiga mengisi bbm pertalite200rb.

Pukul 12.00 siang kami sudah sampai Pekalongan, istirahat sebentar makan siang soto. Suamiku memang sengaja memilih jalan biasa, bukan dari tol. Selain menghemat biaya perjalanan, jalanannya masih bagus dan tidak begitu macet. Kemudian tidak jauh dari warung makan, kami pun sholat dzuhur sekalian jamak ashar disebuah mesjid dipinggir jalan. Perjalanan pun berlanjut, masih suamiku yang nyetir dan disekitaran Brebes kami berhenti sebentar dipom bensin karena aku dan ibu mau ke toilet.

Pukul 16.00 kami sudah sampai Cirebon, dan masuk tol Palimanan sekitaran pukul 17.00. Tujuan peristirahatan pertama adalah rumahnya mas Hafiz di Tangerang. Namun sebelumnya kami berhenti dulu di rest area shalat magrib jamak isya beserta makan. Kemudian lanjut lagi perjalanan, kira-kira pukul 21.30 sudah sampai Jakarta. Sebelum ke rumah mas Hafiz, kami mengisi bensin pertalite 200rb dan mengantar pacarnya Rezky ke rumah saudaranya. Kira-kira pukul 23.00 kami sudah sampai rumah mas Hafiz. Kedatangan kami ternyata sudah dismbut Ahsin, mas Seno dan nasi kebulinya mbak Zifah. Maturnuwun nggih mas, mbak atas suguhannya JJ. Istirahat sebentar dirumah mas Hafiz sambil meluruskan badan, bisa dibilang hanya tidur-tidur ayam saja. Suamiku, mas Hafiz, Ahsin dan mas Seno malah ngobrol diteras. Bisa dibilang mereka enggak tidur sama sekali. Ya gitu deh klo sudah ketemu teman dekatnya JJ.

Pukul 03.00 dini hari kami melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan merak. Dari rumah mas Hafiz kami pun langsung masuk tol, kali ini yang nyetir Rezky. Ayah Hawqal gantian istirahat. Kira-kira 5km sebelum keluar tol menuju pelabuhan merak, kami berhenti direst area untuk sholat subuh, suamiku membeli tiket penyeberangan online Kapal Ferry 420rb (mobil pribadi) dan sekalian mengisi bbm pertalite 70rb.

Pukul 06.00 pagi kami sudah masuk ke Kapar Ferry. Kami dapat kapal ferry  yang besar, kebetulan parkiran agak dibelakang sehingga tidak menunggu lama kapalnya pun sudah melaju. Selama perjalanan Hawqal kupangku ganti-gantian dengan ibu. Hawqalnya agak rewel karena belum sepenuhnya pulih dari sakitnya. Selama perjalanan dikasih makan hanya di Pekalongan saja karena dia sempat muntah diperjalanan. Hawqal wartu itu usianya masih 6bulan 2minggu, jadi dia baru dikenalin MPASI. Kami memutuskan Hawqal dikasih ASI saja, MPASInya distop selama perjalanan karena Hawqalnya sempat muntah. Kalau bisa dibilang aku capek banget, karena tidurnya hanya tidur2 ayam ditambah Hawqal yang rewel. Di Kapal Ferry kami memilih masuk keruangan dalam yang bisa buat selonjoran dan berbaring. Ternyata ditarik tiket 10rb per-orang. Klo mau gratis duduk diemperan kapal diluar.

Selama di Kapal Ferry ada satu peristiwa yang sangat menyesakkan hatiku. Sambil menggendong Hawqal, punggungku dan punggung suamiku saling menyanggah karena dinding tempat selonjoran sudah penuh sehingga kami memilih ditengah. Aku melihat ada seorang anak yang kurang sempurna fisiknya (“maaf: bibirnya sumbing), dia merengek seperti meminta Handphone ditas ibunya. Ibu itu seperti marah dan dengan gampangnya menggampar anak itu. Anak itu masih merengek, ibu itu pun mengasih dan tidak tau apa yang dipencet anaknya, si ibu itu kembali marah menggampar anak itu dan mencubitnya dengan ringan tangan sekali. Tak terasa air mataku mengalir, aku nangis segugukan sambil nyiumin Hawqal dipangkuanku, tega banget ibu itu padahal ini tempat umum, tempat keramaian. Suamiku heran dan menanyakan kenapa aku menangis. Setelah kuceritaan, posisi dudukku diubah sama suamiku agar mataku tidak tertuju ke anak tersebut. Hawqal rewel lagi, aku dan ibu pindah ke ruang Laktasi di kapal ferry itu. Ruang yang tidak begitu besar, hanya dibatasi tirai diruang kaca bening dan cuma difasilitasi satu sofa. Ternyata Hawqal eek, setelah popokny diganti dan saya susui dia pun tertidur disofa itu.

ruang peristirahatan kapal ferry
menuju pelabuhan Bakauheni

Pukul 08.00 pagi kami sudah sampai kepelabuhan Bakauni. Rencana awal memang full tol setelah masuk pulau sumatera. Kali ini suamiku lagi yang nyetir. Kami berencana mau sarapan direst area, namun belum ada rest area yang berfungsi dengan semestinya. Untuk mengganjal perut sementara makan roti dan biskuit yang dibawa dari Boyolali. Akhirnya menemukan rest area yang agak ramai, kamipun berhenti sebentar untuk istirahat dan mandi. Hawqal makin menjadi-jadi rewelnya, dia menagis terus. Sedikit-sedikit eek, mencret. Mungkin karena kecapean dan sebenarnya dia belum pulih betul dari sakitnya yang kemarin. Pantatnya sampai merah, iritasi popok karena sebentar2 dia eek. Suasana makin mengharukan karena suara Hawqal sampai serak sakin seringnya menangis. Mau mundur ke belakang (Boyolali) sudah jauh banget, mau dilanjutin ke depan (Padangsidimpuan) juga masih jauh banget. Ayah Hawqal sampai menangis melihat anaknya yang nangis terus. Baru pertama kali aku melihat suamiku menangis, menangis karena anaknya. Setelah kami mandi, akhirnya ibu menyaranin keluar tol sebentar untuk mencarikan oralit buat Hawqal. Malah suamiku menyarankan kami mencari dokter.

Akhirnya kami keluar tol Kotabaru dan aku menyadari bahwa tol tersebut dekat dengan kampus ITERA (Institut Teknologi Sumatera). Pertama kali aku menyarankan ke minimarket dulu buat beli sufor, karena faktor kecapean ditambah Hawqal rewel banget, ASIku sempat mampet rasanya (Sufornya pun kebuang karena Hawqal enggak mau minum). Setelah itu kami mencari apotik, ibu membelikan oralit dan salep anti ruam popok. Kemudian kamipun lanjut sarapan sekalian makan siang di warung yang tidak jauh dari kampus ITERA tersebut. Sudah memasuki sholat jumat, karena dalam keadaan safar akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menjamak dzuhur dan ashar. Alhamdulillah, Hawqal berkurang rewelnya setelah oralitnya rutin diminum. Sebelum melanjutkan perjalanan, bbm diisi penuh pertalite 240rb.

Tol Trans Sumatera ini bisa dibilang masih kurang baik, banyak jalan yang berlubang dan tidak rata. Akhirnya Rezki menggantikan suamiku nyetir karena sering banget ditabrakin kelubang. Wajar aja mata suamiku sudah minus. Kira-kira pukul 17.00 kami sudah sampai Pelembang. Singgah sebentar di Jembatan Ampera, ikon kota Palembang yang melintas diatas sungai Musi. Kami menikmati sore dengan hidangan mie tek-tek dan teh anget. Menurutku mie tek-tek dipalembang ini agak beda dengan yang di Medan, mienya lebih kecil dibanding mie tek-tek yang di Medan.

Kami memutuskan untuk menginap semalam di Palembang, selain buat istirahat tujuannya agar Hawqal lebih baikan. Suamiku pun mencarikan hotel yang searah dengan jalan Trans Sumatera. Kami memesan 2 kamar. Rezky dan suamiku dikamar yang sederhana dengan harga 100rb, fasilitasnya hanya kipas angin. Sedangkan aku, Hawqal dan ibu dikamar ber- AC dengan harga 250rb. Menurutku itu tergolong mahal, salahnya diawal sih enggak cari diaplikasi, kami main datang langsung aja. Sebelum istirahat, kami mandi dan sholat isya-magrib jamak takhir. Untuk meredakan ruam popoknya, malam itu Hawqal hanya dipakaikan celana dan perlak. Setelah pagi, ku lihat dia masih mencret dan meninggalkan noda eeknya disprei hotel, aihhhhh mohon maaf ya petugas hotel, ihihihih.

Pukul 04.00 pagi, kami sudah siap-siap melanjutkan perjalanan. Sebelum subuh semuanya sudah mandi dan beres-beres. Setelah adzan subuh, kami pun sholat subuh dan melanjutkan perjalanan kembali. Tol Trans Sumatera hanya sampai kota Palembang. Jadi perjalanan selanjutnya melewati jalan trans sumatera biasa. Tujuan selanjutnya kota Solok, Sumatera Barat. Kami memilih lintas tengah agar lebih nyaman dan jalannya tidak terlalu berliku. Pukul 08.00 kami sarapan disebuah warung makan Padang. Dari penampilan pelayannya yang rapi bisa ditebak harganya mahal. Agak susah mencari warung makan di lintasan Sumatera Selatan-Jambi, jadi ya sedapatnya saja.

Pukul 12.00 sudah masuk daerah Jambi. Kemudian kami mengisi bbm premium 170rb dan sekalian sholat dzuhur jamak ashar. Tidak jauh dari pom bensin itu kami makan siang, kali ini makan bakso supaya lebih seger diperjalanan. Kami tidak memasuki kota Jambi karena tujuannya memang ke Solok ke rumah teman masa kecilku dahulu. Namun kami masih menjumpai aliran sungai Batang Hari yang merupakan sugai terpanjang di pulau sumatera. Pukul 16.00 kami sudah sampai di Kabupaten Batanghari, singgah sebentar dipinggir jalan untuk membeli degan. Suamiku dan Rezky memesan Degan murni, sedang aku dan ibu memesan Degan komplit. Kelapa muda dicampur sirup coco pandan dan susu serta ditambahin selasih, rasanya begitu nikmat menghilagkan dahaga selama perjalanan.

Jalan perbatasan Jambi-Sumbar sangat parah, terlebih di daerah Dharmasraya. Banyak jalan berlubang dan  tidak rata sehingga tidak bisa ngebut dan harus ekstra hati-hati. Kira-kira pukul 23.00 ban mobil kami kempis, mungkin karena begitu banyaknya lubang yang dilewati. Akhirnya suamiku dan Rezky menggantinya dengan ban serep. Aku, Hawqal dan Ibu istirahat nungguin disebuah warung. Warung itu sepertinya buka 24jam, banyak supir truk yang makan disitu sambil istirahat dari perjalanan jauhnya.

Pukul 03.00 dini hari baru tiba dirumahnya Eeng, dia tetanggaku sekalian teman SD sampai SMP waktu aku masih kecil. Karena ayahnya pindah tugas, akhirnya kami terpisahkan waktu SMP kelas 2. Dia pindah ke Sosa dan kemudian balik lagi ke kampung halamannya di Solok Sumbar. Hanya tidur sebentar dan istirahat dirumah Eeng, paginya kami sudah harus siap-siap melanjutkan perjalanan lagi. Setelah sholat subuh, mandi dan disuguhin sarapan dirumah Eeng. Kami pun pamit untuk melanjutkan perjalanan lagi. Tidak jauh dari Solok,kira-kira setengah jam kami singgah sebentar di danau Singkarak Batusangkar. Sekedar menikmati segelas kopi dan memanjakan mata atas keindahan danau yang Allah ciptakan. Alhamdulillah pertama kali melihat senyum Hawqal, dia sudah tidak rewel lagi dan diarenya pun sudah mulai sembuh.

dirumah Eeng
Hawqal di danau Singkarak
Danau Singkarak Batusangkar

Akhirnya kami pun berpisah dengan Rezky, dia ke arah Padang Panjang karena ada urusan sebelum balik ke kampung halamannya di Pasaman Barat. Selanjutnya suamiku yang nyetir menuju Bukit tinggi. Kebetulan libur tahun baru, walaupun dalam kondisi pandemi tetap saja macet menuju bukit tinggi. Kami memang berniat singgah sebentar walau hanya sekedar melihat jam gadang. Tapi karena parkirnya rada susah akhirnya kami hanya ke Panorama Ngarai Sianok.

Pukul 02.00 dari bukit tinggi kami pun menuju Padangsidimpuan. Sebelumnya singgah di daerah Kabupaten Sijunjung, mengisi bbm pertalite 200rb sekalian sholat jamak takhir dzuhur ashar. Selanjutnya kami pun melanjutkan perjalanan. Sungguh bisa bertafakur akan kebesran Allah, masih dimampukan badan ini dan mata ini melihat jalan berliku2 tiada henti, sehingga dikatakan kelok 1001. Ibu sampai mengucap terus, belum selesai belok kiri sudah belok kanan. Disebelah kanan bukit, disebelah kiri jurang. Tapi aku melihat supir didaerah ini sangat bersahabat, terlebih-lebih truk. Dia akan memberikan jalan kepada kami kalau ada jalan yang agak lapang dan lurus, sehingga mudah menyalipnya dijalanan yang tiada henti berkelok itu.

Pukul 18.30, pas magrib kami sudah di Kotanopan. Kamipun berhenti di pom bensin istirahat sebentar karena suamiku mengantuk, sekalian sholat magrib dan mengisi bbm pertamax 100rb. Setelah melanjutkan perjalanan, pukul 22.00 kami sudah dipanyabungan. Suamiku ngantuk lagi dan kami berhenti dipinggir jalan agar ia bisa tidur walau 15menit. Bapakku sampai nelpon apa kami dikirimin supir atau disusul kesana, tapi ku bilang tidak perlu pak, Akhirnya nyampai sidimpuan pukul 23.00. Alhamdulillah…

Foto Hawqal bersama Oppung
Foto Hawqal bersama Tulang Yugi, Kak Muti dan Bang Adzriel

Tidak lama disidimpuan, hanya 4hari saja karena suamiku bakalan balik kerja lagi. Hari pertama hanya dihabiskan nyuci pakaian dan istirahat saja. Hari kedua, aku cuma istirahat dan main sama Hawqal sedang ibu dan mama sempat jalan2 kepasar supaya ibu tahu pasar Padangsidimpuan. Hari ketiga kami keliling silaturrahmi kerumah saudara Bapak, sedang saudara dari mama sudah datang kerumahku menyambut kedatangan Hawqal. Hari keempat istirahat dan paking untuk pulang.  

‘- BY : RIZQI EKA PUTRI

You may also like...

Leave a Reply