Ngabuburide Part 2, Ngajak Istri Touring ke Dieng

Jumat 24 mei 2019. Waktu menunjukkan pukul 16:00 tapi hati dan pikiran rasanya sudah tidak di kantor lagi. Segera selesaikan kerjaan biar pas jam 5 teng bisa pulang dan langsung berangkat gas ke dieng. Namun cerita jadi berbeda saat sudah gendong tas dan waktu menunjuk pukul 17:05 ada telp dari atasan jakarta yang meminta di follow up kan salah satu kerjaan. Gak jadi pulang jam 5 teng tapi buka laptop dulu selesain tugas nya biar gak jadi PR dan gak jadi masalah.

Akhirnya beres juga kerjaan dan langsung pulang dari kantor. Karena sudah terlanjur mepet buka puasa akhirnya saya dan Eka berangkat gas diengnya setelah buka puasa. Pulang dari kantor karena mau di traktir si Kirun saya mampir dulu sebentar di angkringan dekat kosan beli bukaan sama nasi kucing. Sampai kosan makan sekalian trus barulah kami berangkat menuju dieng nyusul si Yasin yang sudah berangkat sejam lebih dulu. Oiya kali ini saya mengendarai merzy selain kondisi motor paling sehat diantara RX dan GL juga penasaran pengen jajal kalo merzy buat boncengan dan nanjak seperti apa. Dari Klaten merzy saya gas agak kenceng supaya dapat mampir taraweh sekitar prambanan. Pas banget denger adzan isya sudah mau dekat Prambanan, begitu ada masjid kiri jalan saya langsung menepi dan masuk ke parkiran masjid.

Selesai Taraweh kami lanjut lagi gas Temanggung meeting poin dengan Yasin. Karena gak mau melintasi Jogja sayapun milih jalur Prambanan – Denggung selain memotong jalur juga sedikit menghindari keramaian dan kemacetan. Begitu sampai denggung saya ambil belok kanan dan lanjut gas ke arah Magelang. Masuk Muntilan jalan jadi agak ruwet dan kondisi sedang pemadaman PLN sehingga gelap total dan riding harus hati hati gak usah ngebut. Biasanya saya milih lewat ringroad Magelang tapi kali ini karena penasaran saya bablas terus masuk kota dan malah muter- muter bingung keluarnya mau ke arah Temanggung. Besok gak lagi lagi deh masuk jalur kota Magelang, malah mubeng mubeng ora menyingkat waktu justru tambah lama. Setelah berhasil keluar dari kota saya lanjut gas agak ngebut arah Temanggung karena Yasin sudah menunggu. Karena mulai hafal jalur alternatif ke Temanggung saya ambil jalur alternatif ini, lumayan memotong jalur tanpa harus lewat Secang. Karena perkiraan bensin merzy di tangki tinggal sedikit saya mampir dulu sebentar di pom dekat terminal sekalian ngecek posisi Yasin dimana. Selesai isi bensin kami lanjut lagi menghampiri Yasin yang jaraknya hanya 10menit.

Lanjut lagi gas menuju wonosobo setelah ketemu yasin di pom bensin tal jauh dari pom saya mengisi bensin. Karena membawa boncenger makluk lembut saya dan yasin sepakat memilih jalur umum atau jalur yg biasa orang lewati bukan lewat hutan atau lewat perkampungan. Dari Temanggung sampe Wonosobo alhamdulillah jalur cukup lancar dan agak sepi. Setiba nya di Wonosobo kami berhenti sebentar di alun- alun karena perut lapar. Sambil makan saya buka HP ada pesan dari cakmim sudah menunggu di Dieng. Tinggal setengah jam lagi kami sudah tiba di Dieng, selesai makan pun perjalanan kami lanjutkan agar tidak terlalu malam nyampai Dieng. Karena sudah malam dan jalan banyak kelok dan naik turunnya kami pun riding dengan hati hati dan mengutamakan safety tidak perlu ngebut yang penting cepat sampai.

Alhamdulillah tiba di pertigaan Dieng kami langsung berhenti di depan tulisan wellcome to Dieng dan berfoto foto sebagai kenang2an bahwa pernah ke Dieng. Setelah foto foto saya mendapat pesan dari cakmim untuk ketemu di depan SD dieng kulon karena homestay yang di pesanin cakmim letaknya di belakang SD. Homestaynya bagus, bersih, rapi, simpel, dan nyaman. Terima kasih banyak cakmim homestaynya sangat rekomended. Karena sudah capek dan ngantuk kami segera istirahat dan jam 3 pagi harus sudah bangun untuk sahur.

Singkat cerita kami bangun jam 03.00 untuk sahur makan roti dan minum teh hangat. Kemudian setelah shalat subuh karena masih ngantuk dan capek kami kembali tidur sampai matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 07.00 saya bangun dan bangunkan temen temen menawari mau pergi kemana. Kami deal pagi itu menuju destinasi pertama yaitu telaga dringo. Karena sudah lupa jalurnya saya pun inisiatif menggunakan google map menuju telaga. Setelah 15 menit melintasi jalan aspal bagusnya dieng kemudian jalur mulai menanjak dan berupa tatanan bebatuan. Istirahat sebentar sambil memastikan jalur. Kami lanjutkan perjalanan dan tanjakannya pun semakin kejam dengan kontur jalan yang sudah rusak. Karena tak kuasa menanjak binter merzy saya mati mesin di tengah tanjakan. Untuk mengurangi beban akhirnya Eka saya minta turun dan jalan kaki sedikit sampe jalan agak datar. Saya sudah lupa berapa panjang jalan rusak dan nanjak esktrim ini, dan ternyata hampir separo perjalanan dari homestay menuju dringo adalah jalur rusak dan menanjak esktrim ini. Alhasil merzy saya mati berkali kali setiap melintasi tanjakan yang ekstrim. Alhamdulillah setelah bersusah payah kami tiba di parkiran telaga dringo. Ya memang masih sepi dan tergolong sangat sepi telaga dringo ini. Setelah parkir kami jalan treking sedikit untuk sampai di telaga nya. Pepohonannya masih cukup rapat dan tumbuh subur rindang dedaunnya meneduhkan pejalan yang lewat. Bahkan kalau saya ingat kembali tahun 2013 hutannya masih sama hingga sekarang. Artinya kawasan hutan dringo dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Tak jauh dari parkir motor kira kira 10menit kami sudah sampai di bibir telaga. Langit biru airnya tenang angin bertiup sepoi sepoi. Terdengar pula kicau burung dari kejauhan. Hanya ada kami berempat, sungguh sahdu memang rasanya. Saya lihat juga ada banyak pohon baru ditanam di kawasan telaga dringo ini, ya mudah2an beberapa tahun lagi semakin rindang dan indah. Rumput yang tinggi dan lebat menunjukkan memang sangat jarang ada orang yang berkunjung ke telaga ini. Saya pribadi pun sangat puas bisa menikmati keindahan alam telaga Dringo bahkan dengan kesunyiannya. Setelah puas berfoto di sekitar telaga kami pindah berfoto di hutan yang juga eyeketching untuk berfoto narsis ala india. Pohon yang tumbuh pun menurut saya juga agak aneh, daun yang sangat lebat serta seperti sudah hidup ratusan tahun namun ukurannya tidak terlalu besar. Kalau boleh berandai andai saya seolah sedang di film film seperti harry potter dan sejenisnya.

Karena sudah mulai siang dan masih ada destinasi selanjutnya kami segera balik ke parkiran kendaraan dan meninggalkan telaga dringo. Alhamdulillah perjalanan dari telaga dringo menuju dieng lebih banyak jalan menurun dan datar sehingga binter merzy saya aman. Dari parkir kendaraan sampai pos jaga / loket kami melaju perlahan dan hati hati karena jalan yg tidak rata serta kanan kiri ada yang curam. Sekiranya kami riding selama 20 menit sudah tiba di jalan beraspal menuju dieng. Perjalanan arah balik pun mata sangat dimanjakan oleh pemandangan kanan kiri jalan. Terasering perkebunan kentang khas dieng dengan di payungi langit biru yang cerah. Pepohonan hijau tumbuh agak jarang menghiasi sela sela kebun kentang. Udara dingin langit cerah biru dan kicau burung sungguh menyempurnakan hari kami di dieng. Tak terasa sudah 20 menit perjalanan kami sudah sampai di pom bensin dieng, ya satu satunya pom bensin yang ada di dataran tinggi dieng. Dari pom bensin kami memutuskan untuk mampir sekalian ke kawah sikidang dan candi arjuna.

Setibanya di kawah sikidang saya sendiri sudah hafal segala sudut dan penjurunya. Di kawah saya sekedar mengantarkan eka, yasin dan ratna. Sambil melihat mereka saya arahkan kamera dan ambil beberapa foto mereka yang sedang asik menikmati kawah sikidang. Kawah sikidang yg biasanya sangat ramai pengunjung karena puasa berubah menjadi sangat sepi, bahkan cuma ada rombongan kami dan satu rombongan lain lagi. Kawah sikidang ini memang ada beberapa kawah yg pindah pindah tempat jadi ada bekas kawah juga ada calon kawah baru. Saat saya berkunjung pun ada calon kawah baru. Makanya disebut lah kawah sikidang karena sifatnya seperti hewan kijang yang lompat2. Setelah sudah mulai bosan dan mati gaya berfoto kami meninggalkan kawah dan menuju parkiran motor. Terik matahari siang semakin panas namun udara dingin mampu mengelabuhi kami sehingga saking tak terasa lagi panasnya matahari tiba tiba kulit wajah pun mulai terbakar. Sudah mulai malas malasan mau kemana karena teriknya matahari semakin terasa. Tapi rugi jika saat sepi seperti bulan puasa malah gak sekalian di explore. Karena tiket terusan dari kawah sikidang adalah candi arjuna maka kami manfaatkan daripada tiketnya hangus kan sayang.

Dari kawah sikidang cuma berjarak beberapa ratus meter saja ditempuh dengan 15menit naik motor. Tiba di parkiran candi arjuna sudah ada kang parkir yang mengarahkan agar motor di parkir dengan rapi. Dengan menunjukkan tiket dari kawah sikidang kami kemudian masuk ke kawasan candi arjuna. Karena cuma sebagai ampiran ya kami sekedar pengen melihat lihat ada apa saja di kawasan candi arjuna. Jalan beberapa puluh meter dari parkiran kami sudah tiba di candi arjuna. Tak ramai pengunjung hanya ada beberapa orang saja yang sedang duduk bersantai maupun berfoto di sekitar candi. Selain foto foto saya sendiri justru memanfaatkan untuk bersantai dan istirahat sebentar tidur tiduran samping candi. Dari candi kami balik ke parkiran untuk cari mushola shalat dzuhur dan lanjut lagi ke bukit scotter.

Awalnya sih kepincut ke puncak seroja, karena cukup jauh akhirnya kami banting setir destinasi menuju bukit scotter. Dari candi arjuna sudah tidak jauh. Tak sampai 30 menit kami sudah tiba di bukit scotter. Hanya ada petani kentang yang sedang memanen kentang. Karena belum tau lokasi tepatnya sebelah mana saya tanyakan ke mas petani kentang. Kami disarankan jalan kaki menyusuri jalan setapak naik ke puncak bukit scotter. Kalau saya menilai memang belum bisa di sebut tempat wisata, tapi view nya yang keren jadi menarik wisatawan untuk berkunjung. View yang membuat saya terkesan adalah bisa menikmati pemandangan desa dieng wetan dan kulon dari atas. Terlihat perumahan padat penduduk dan jalan utama dieng. Perumahan padat dengan dinsekelilingnya adalah perkebunan kentang yang berada di kaki dan puncak bukit. Alhamdulillah sore itu langit cerah biru berawan foto yang saya peroleh pun menjadi lebih berwarna. Di bukit scotter kami agak lama karena memang tempatnya enak adem dan sepi. Karena bulan puasa dan kami harus segera bersiap untuk mencari buka puasa kami pindah destinasi hunting sunset sekalian berbuka dengan yang manis di batu ratapan angin.

Batu ratapan angin biasanya di manfaatkan turis untuk melihat telaga warna dari atas. Dari batu ratapan angin memang terlihat telaga warna dan telaga pengilon layaknya hasil foto sebuah drone. Tapi kali ini kami memang beda, ya salah satunya karena memang sengaja melihat dieng dari sudut yang berbeda. Termasuk melihat dieng dengan cara yang berbeda, kalau biasanya pagi atau siang turis menikmati batu ratapan angin kami justru sengaja datang sore hari sekalian untuk melihat sunset. Selain hari sudah sore juga karena dalam bulan puasa jadi turis pun sedikit bahkan bisa di bilang sepi di batu ratapan angin. Saya sendiri puas bisa hunting foto kesana kemari dengan bebas tanpa ada hasil foto yang bocor. Untungnya saya bawa kurma dan sebotol air minum, karena rupanya warung yang biasanya buka sampe sore tidak ada yang buka mungkin dari pagi sekalipun. Buka puasa di batu ratapan angin dengan pemandangan matahari terbenam dan menunya adalah kurma juga air mineral. Nikmat manalagi yang mau kamu dustakan kalau kata para pujangga.

Hari semakin gelap dan sudah tiada turis lain lagi selain kami. Sudah waktunya shalat magrib dan kami meninggalkan batu ratapan angin menuju masjid dieng. Selesai shalat magrib kami mencari warung makan untuk mengisi perut sebelum lanjut camping di bukit sidengkeng.

You may also like...

Leave a Reply