Ngabuburide Part 2, Ngajak Istri Touring ke Dieng

Jumat 24 mei 2019. Waktu menunjukkan pukul 16:00 tapi hati dan pikiran rasanya sudah tidak di kantor lagi. Segera selesaikan kerjaan biar pas jam 5 teng bisa pulang dan langsung berangkat gas ke dieng. Namun cerita jadi berbeda saat sudah gendong tas dan waktu menunjuk pukul 17:05 ada telp dari atasan jakarta yang meminta di follow up kan salah satu kerjaan. Gak jadi pulang jam 5 teng tapi buka laptop dulu selesain tugas nya biar gak jadi PR dan gak jadi masalah.

Akhirnya beres juga kerjaan dan langsung pulang dari kantor. Karena sudah terlanjur mepet buka puasa akhirnya saya dan Eka berangkat gas diengnya setelah buka puasa. Pulang dari kantor karena mau di traktir si Kirun saya mampir dulu sebentar di angkringan dekat kosan beli bukaan sama nasi kucing. Sampai kosan makan sekalian trus barulah kami berangkat menuju dieng nyusul si Yasin yang sudah berangkat sejam lebih dulu. Oiya kali ini saya mengendarai merzy selain kondisi motor paling sehat diantara RX dan GL juga penasaran pengen jajal kalo merzy buat boncengan dan nanjak seperti apa. Dari Klaten merzy saya gas agak kenceng supaya dapat mampir taraweh sekitar prambanan. Pas banget denger adzan isya sudah mau dekat Prambanan, begitu ada masjid kiri jalan saya langsung menepi dan masuk ke parkiran masjid.

Selesai Taraweh kami lanjut lagi gas Temanggung meeting poin dengan Yasin. Karena gak mau melintasi Jogja sayapun milih jalur Prambanan – Denggung selain memotong jalur juga sedikit menghindari keramaian dan kemacetan. Begitu sampai denggung saya ambil belok kanan dan lanjut gas ke arah Magelang. Masuk Muntilan jalan jadi agak ruwet dan kondisi sedang pemadaman PLN sehingga gelap total dan riding harus hati hati gak usah ngebut. Biasanya saya milih lewat ringroad Magelang tapi kali ini karena penasaran saya bablas terus masuk kota dan malah muter- muter bingung keluarnya mau ke arah Temanggung. Besok gak lagi lagi deh masuk jalur kota Magelang, malah mubeng mubeng ora menyingkat waktu justru tambah lama. Setelah berhasil keluar dari kota saya lanjut gas agak ngebut arah Temanggung karena Yasin sudah menunggu. Karena mulai hafal jalur alternatif ke Temanggung saya ambil jalur alternatif ini, lumayan memotong jalur tanpa harus lewat Secang. Karena perkiraan bensin merzy di tangki tinggal sedikit saya mampir dulu sebentar di pom dekat terminal sekalian ngecek posisi Yasin dimana. Selesai isi bensin kami lanjut lagi menghampiri Yasin yang jaraknya hanya 10menit.

Lanjut lagi gas menuju wonosobo setelah ketemu yasin di pom bensin tal jauh dari pom saya mengisi bensin. Karena membawa boncenger makluk lembut saya dan yasin sepakat memilih jalur umum atau jalur yg biasa orang lewati bukan lewat hutan atau lewat perkampungan. Dari Temanggung sampe Wonosobo alhamdulillah jalur cukup lancar dan agak sepi. Setiba nya di Wonosobo kami berhenti sebentar di alun- alun karena perut lapar. Sambil makan saya buka HP ada pesan dari cakmim sudah menunggu di Dieng. Tinggal setengah jam lagi kami sudah tiba di Dieng, selesai makan pun perjalanan kami lanjutkan agar tidak terlalu malam nyampai Dieng. Karena sudah malam dan jalan banyak kelok dan naik turunnya kami pun riding dengan hati hati dan mengutamakan safety tidak perlu ngebut yang penting cepat sampai.

Alhamdulillah tiba di pertigaan Dieng kami langsung berhenti di depan tulisan wellcome to Dieng dan berfoto foto sebagai kenang2an bahwa pernah ke Dieng. Setelah foto foto saya mendapat pesan dari cakmim untuk ketemu di depan SD dieng kulon karena homestay yang di pesanin cakmim letaknya di belakang SD. Homestaynya bagus, bersih, rapi, simpel, dan nyaman. Terima kasih banyak cakmim homestaynya sangat rekomended. Karena sudah capek dan ngantuk kami segera istirahat dan jam 3 pagi harus sudah bangun untuk sahur.

Singkat cerita kami bangun jam 03.00 untuk sahur makan roti dan minum teh hangat. Kemudian setelah shalat subuh karena masih ngantuk dan capek kami kembali tidur sampai matahari terbit. Waktu menunjukkan pukul 07.00 saya bangun dan bangunkan temen temen menawari mau pergi kemana. Kami deal pagi itu menuju destinasi pertama yaitu telaga dringo. Karena sudah lupa jalurnya saya pun inisiatif menggunakan google map menuju telaga. Setelah 15 menit melintasi jalan aspal bagusnya dieng kemudian jalur mulai menanjak dan berupa tatanan bebatuan. Istirahat sebentar sambil memastikan jalur. Kami lanjutkan perjalanan dan tanjakannya pun semakin kejam dengan kontur jalan yang sudah rusak. Karena tak kuasa menanjak binter merzy saya mati mesin di tengah tanjakan. Untuk mengurangi beban akhirnya Eka saya minta turun dan jalan kaki sedikit sampe jalan agak datar. Saya sudah lupa berapa panjang jalan rusak dan nanjak esktrim ini, dan ternyata hampir separo perjalanan dari homestay menuju dringo adalah jalur rusak dan menanjak esktrim ini. Alhasil merzy saya mati berkali kali setiap melintasi tanjakan yang ekstrim. Alhamdulillah setelah bersusah payah kami tiba di parkiran telaga dringo. Ya memang masih sepi dan tergolong sangat sepi telaga dringo ini. Setelah parkir kami jalan treking sedikit untuk sampai di telaga nya. Pepohonannya masih cukup rapat dan tumbuh subur rindang dedaunnya meneduhkan pejalan yang lewat. Bahkan kalau saya ingat kembali tahun 2013 hutannya masih sama hingga sekarang. Artinya kawasan hutan dringo dijaga dengan baik oleh warga sekitar. Tak jauh dari parkir motor kira kira 10menit kami sudah sampai di bibir telaga. Langit biru airnya tenang angin bertiup sepoi sepoi. Terdengar pula kicau burung dari kejauhan. Hanya ada kami berempat, sungguh sahdu memang rasanya. Saya lihat juga ada banyak pohon baru ditanam di kawasan telaga dringo ini, ya mudah2an beberapa tahun lagi semakin rindang dan indah. Rumput yang tinggi dan lebat menunjukkan memang sangat jarang ada orang yang berkunjung ke telaga ini. Saya pribadi pun sangat puas bisa menikmati keindahan alam telaga Dringo bahkan dengan kesunyiannya. Setelah puas berfoto di sekitar telaga kami pindah berfoto di hutan yang juga eyeketching untuk berfoto narsis ala india. Pohon yang tumbuh pun menurut saya juga agak aneh, daun yang sangat lebat serta seperti sudah hidup ratusan tahun namun ukurannya tidak terlalu besar. Kalau boleh berandai andai saya seolah sedang di film film seperti harry potter dan sejenisnya.

IMG_20190611_193837_415  IMG_20190620_210637_783 IMG_20190710_163252_254 IMG_20190710_172131_868 IMG_20190710_192552_221 IMG_20190531_181337_312 IMG_20190602_053701_237 IMG_20190602_053238_574 IMG_20190531_110128_220

Karena sudah mulai siang dan masih ada destinasi selanjutnya kami segera balik ke parkiran kendaraan dan meninggalkan telaga dringo. Alhamdulillah perjalanan dari telaga dringo menuju dieng lebih banyak jalan menurun dan datar sehingga binter merzy saya aman. Dari parkir kendaraan sampai pos jaga / loket kami melaju perlahan dan hati hati karena jalan yg tidak rata serta kanan kiri ada yang curam. Sekiranya kami riding selama 20 menit sudah tiba di jalan beraspal menuju dieng. Perjalanan arah balik pun mata sangat dimanjakan oleh pemandangan kanan kiri jalan. Terasering perkebunan kentang khas dieng dengan di payungi langit biru yang cerah. Pepohonan hijau tumbuh agak jarang menghiasi sela sela kebun kentang. Udara dingin langit cerah biru dan kicau burung sungguh menyempurnakan hari kami di dieng. Tak terasa sudah 20 menit perjalanan kami sudah sampai di pom bensin dieng, ya satu satunya pom bensin yang ada di dataran tinggi dieng. Dari pom bensin kami memutuskan untuk mampir sekalian ke kawah sikidang dan candi arjuna.

IMG_20190528_230330_654

Setibanya di kawah sikidang saya sendiri sudah hafal segala sudut dan penjurunya. Di kawah saya sekedar mengantarkan eka, yasin dan ratna. Sambil melihat mereka saya arahkan kamera dan ambil beberapa foto mereka yang sedang asik menikmati kawah sikidang. Kawah sikidang yg biasanya sangat ramai pengunjung karena puasa berubah menjadi sangat sepi, bahkan cuma ada rombongan kami dan satu rombongan lain lagi. Kawah sikidang ini memang ada beberapa kawah yg pindah pindah tempat jadi ada bekas kawah juga ada calon kawah baru. Saat saya berkunjung pun ada calon kawah baru. Makanya disebut lah kawah sikidang karena sifatnya seperti hewan kijang yang lompat2. Setelah sudah mulai bosan dan mati gaya berfoto kami meninggalkan kawah dan menuju parkiran motor. Terik matahari siang semakin panas namun udara dingin mampu mengelabuhi kami sehingga saking tak terasa lagi panasnya matahari tiba tiba kulit wajah pun mulai terbakar. Sudah mulai malas malasan mau kemana karena teriknya matahari semakin terasa. Tapi rugi jika saat sepi seperti bulan puasa malah gak sekalian di explore. Karena tiket terusan dari kawah sikidang adalah candi arjuna maka kami manfaatkan daripada tiketnya hangus kan sayang.

Dari kawah sikidang cuma berjarak beberapa ratus meter saja ditempuh dengan 15menit naik motor. Tiba di parkiran candi arjuna sudah ada kang parkir yang mengarahkan agar motor di parkir dengan rapi. Dengan menunjukkan tiket dari kawah sikidang kami kemudian masuk ke kawasan candi arjuna. Karena cuma sebagai ampiran ya kami sekedar pengen melihat lihat ada apa saja di kawasan candi arjuna. Jalan beberapa puluh meter dari parkiran kami sudah tiba di candi arjuna. Tak ramai pengunjung hanya ada beberapa orang saja yang sedang duduk bersantai maupun berfoto di sekitar candi. Selain foto foto saya sendiri justru memanfaatkan untuk bersantai dan istirahat sebentar tidur tiduran samping candi. Dari candi kami balik ke parkiran untuk cari mushola shalat dzuhur dan lanjut lagi ke bukit scotter.

IMG_20190525_153814_186 IMG_20190710_192102_071

IMG_20190614_142056_670

Awalnya sih kepincut ke puncak seroja, karena cukup jauh akhirnya kami banting setir destinasi menuju bukit scotter. Dari candi arjuna sudah tidak jauh. Tak sampai 30 menit kami sudah tiba di bukit scotter. Hanya ada petani kentang yang sedang memanen kentang. Karena belum tau lokasi tepatnya sebelah mana saya tanyakan ke mas petani kentang. Kami disarankan jalan kaki menyusuri jalan setapak naik ke puncak bukit scotter. Kalau saya menilai memang belum bisa di sebut tempat wisata, tapi view nya yang keren jadi menarik wisatawan untuk berkunjung. View yang membuat saya terkesan adalah bisa menikmati pemandangan desa dieng wetan dan kulon dari atas. Terlihat perumahan padat penduduk dan jalan utama dieng. Perumahan padat dengan dinsekelilingnya adalah perkebunan kentang yang berada di kaki dan puncak bukit. Alhamdulillah sore itu langit cerah biru berawan foto yang saya peroleh pun menjadi lebih berwarna. Di bukit scotter kami agak lama karena memang tempatnya enak adem dan sepi. Karena bulan puasa dan kami harus segera bersiap untuk mencari buka puasa kami pindah destinasi hunting sunset sekalian berbuka dengan yang manis di batu ratapan angin.

Batu ratapan angin biasanya di manfaatkan turis untuk melihat telaga warna dari atas. Dari batu ratapan angin memang terlihat telaga warna dan telaga pengilon layaknya hasil foto sebuah drone. Tapi kali ini kami memang beda, ya salah satunya karena memang sengaja melihat dieng dari sudut yang berbeda. Termasuk melihat dieng dengan cara yang berbeda, kalau biasanya pagi atau siang turis menikmati batu ratapan angin kami justru sengaja datang sore hari sekalian untuk melihat sunset. Selain hari sudah sore juga karena dalam bulan puasa jadi turis pun sedikit bahkan bisa di bilang sepi di batu ratapan angin. Saya sendiri puas bisa hunting foto kesana kemari dengan bebas tanpa ada hasil foto yang bocor. Untungnya saya bawa kurma dan sebotol air minum, karena rupanya warung yang biasanya buka sampe sore tidak ada yang buka mungkin dari pagi sekalipun. Buka puasa di batu ratapan angin dengan pemandangan matahari terbenam dan menunya adalah kurma juga air mineral. Nikmat manalagi yang mau kamu dustakan kalau kata para penyair.

IMG_20190710_150619_100 IMG_20190528_214728_445

Hari semakin gelap dan sudah tiada turis lain lagi selain kami. Sudah waktunya shalat magrib dan kami meninggalkan batu ratapan angin menuju masjid dieng. Selesai shalat magrib kami mencari warung makan untuk mengisi perut sebelum lanjut camping di bukit sidengkeng. Tak jauh dari masjid ikonik dieng kami makan di depan indomaret sebelum masuk kawasan candi arjuna. Ada banyak pilihan menu di warung ini, dan saya sendiri memilih makan nasi goreng. Selesai makan kami balik lagi ke mesjid untuk mengikuti shalat taraweh. Seusai shalat taraweh saya sudah janjian sama amim untuk camping di bukit sidengkeng. Tak lama kemudian datanglah jokowiyono dan kami balik ke homestay untuk prepare sebelum mendaki sepetak bukit. Ada yang belum kami bawa yaitu seperangkat alat kompor dan panci nya, akhirnya setelah diantar ke awal pendakian bukit jokowiyono mencarikan kompor dan panci/nesting.

Mendaki bukit sidengkeng tidaklah tinggi dan jalurnya cukup bersahabat. Meskipun tidak tinggi tapi bukit ini di kawasan dieng dan sudah jelas kalau malam hawa nya tetap saja sangat dingin. Pendakian kami buat sesingkat mungkin, kurang lebih 15 menit kami sudah sampai di camping ground. Segera mendirikan tenda biar gak kedinginan. Malam itu langit sangat terang berkerlipan cahaya bintang. Berbagi rasi bintang juga terlihat dengan jelas, galaxy paling fenomenal di hati rakyat indonesia bersinar benderang sangat jelas di nikmati dengan mata telanjang. Malam itu ada milyaran bintang yang menyala, bulan pun juga ikut menyumbangkan cahayanya meskipun cuma segaris. Namun yang namanya dieng kalau malam tetap sangat dingin meskipun sudah di hangatkan oleh milyaran cahaya bintang. Untuk mengurangi dingin yasin berinisiatif membuat api dari serpihan kayu dan ranting. Hanya saya dan yasin yang diluar tenda, saya asik memotret dan yasin membuat api unggun kecil kecilan. Sedangkan eka kedinginan bersembunyi di dalam tenda. Konon angin dari ausi sudah mulai berhembus mendinginkan indonesia. Apa memang karena pengaruh angin ausi sampai- sampai eka sudah pakai jaket dan sleeping bag dan bersembunyi di dalam tenda masih kedinginan. Akhirnya saya suruh pakai jaket saya biar digunakan untuk double an jaket agar lebih hangat. Begitupun eka masih bilang kedinginan padahal sudah pakai dua jaket dan sleeping bag. Dan saya sendiri cukup pakai kaos dan celana panjang sambil menghangatkan badan di depan api unggun. Kedinginan gak?? Saya sudah terbiasa kedinginan bahkan saya sendiri pun juga dingin atau malah sangat dingin. Malam semakin larut dan rasa kantuk mulai datang, battere kamera juga tinggal 2 bar untuk berhemat esok hari masih ada sunrise kemudian saya sudahi malam itu sampai pukul 22.xx. karena tinggal sarung yang bisa dimanfaatkan untuk menghangatkan diri mau bagaimana lagi saya tidur berselimut sarung andalan penghalau dingin ketika di gunung. Kalau dibilang nyenyak ya enggak juga sih, sebelum sahur saya sempat terbangun karena kedinginan dan badan sampe bergetar karena menggigil. Tapi rupanya gak cuma saya, yasin pun justru tidak bisa tidur karena dia merasa ada yang sering lewat2 di sekitar tenda. Membuat yasin tidak jenak untuk tidur, dan sampai waktu sahur tiba kami memasak air dan popmi.

IMG_20190606_212018_806 IMG_20190604_085124_733 IMG_20190604_084747_203 IMG_20190603_041534_634

Waktu selesai sahur dan menunggu adzan subuh saya menunggu di luar tenda sedangkan yasin, ratna dan eka masih bersembunyi di dalam tenda. Sebenernya tempat kami camping sudah langsung menjadi spot sunrise jadi tak perlu kemana mana lagi untuk menikmati sunrise. Adzan terdengar dari kejauhan menunjukkan waktu shalat subuh telah tiba. Kami shalat subuh bergantian kemudian yasin balik masuk ke tenda untuk tidur, begitu juga ratna dan eka memilih di dalam tenda kembali tidur. Saya memilih di luar sembari menikmati dinginnya dieng sambil menunggu matahari menyapa. Waktu menunjukkan pukul 05.00 dan semburat merah sudah nampak di ufuk timur. Saya yang sedari tadi menunggu sudah siap dengan kamera dan tripod. Karena bulan puasa camping ground di bukit sidengkeng ini cuma kami berempat jadi tak perlu khawatir tidak kebagian spot motret. Api unggung sisa semalam yang masih menyala kembali saya nyalakan dengan sisa- sisa ranting pohon yang terjatuh dan telah kering. Kenyataannya ketika menjelang matahari terbit justru udara semakin dingin, makanya saya kembali nyalakan api unggun biar agak hangat. Bertemankan api unggun kecil yang kadang nyala kadang cuma berasap karena bahan bakarnya cuma remukan ranting dan daun saya menikmati perubahan langit pagi buta bukit sidengkeng. Perlahan langit mulai terlihat merah dan oranye. Nampak pula telaga warna dibawah bukit terciprat sinarnya mentari. Warna merah berubah menjadi warna kuning dan langit semakin membiru, tidak lupa saya bangunkan yasin, ratna dan eka memberitahukan bahwa sunrise telah datang. Pagi yang cerah untuk jiwa yang tenang. Sunrise dan langit pagi saat itu sungguh indah memanjakan mata. Udara dingin di lengkapi oleh kicau burung bersahutan menyanyi bebas di alam liar. Suara gemuruh angin dari bukit sebelah terdengar merdu dari tempat kami nenda. Siraman sinar matahari perlahan mulai menghangatkan badan saya yang kedinginan. Jangankan malam atau pagi bahkan siang hari pun udara yang berhembus di dieng adalah dingin. Saya pun sudah tidak peduli siraman sinar mentari akan menghanguskan kulit muka. Rasanya tidak panas karena terik matahari karena hembusan udara dingin seolah menipu panasnya terik matahari yang jatuh ke kulit. Sambil bersantai dan berleha leha saya, eka, yasin dan ratna menikmati pemandangan serta udara segar yang jarang kami dapat sehari- hari. Eka masih betah di dalam tenda sambil melihat keluar dari balik pintu tenda. Sedangkan yasin dan ratna sudah mulai membuat hammok diantara dua pohon untuk bersantai.

IMG_20190527_161315_507 IMG_20190604_085953_213 IMG_20190724_112532_479 IMG_20190716_214100_622 IMG_20190716_160056_173 IMG_20190531_105735_230 IMG_20190530_211810_056 IMG_20190531_105533_399 IMG_20190528_083627_151

Hari semakin siang terik mentari juga semakin terasa membakar kulit. Puas menikmati keindahan alam serta udara segar khas dieng kami packing dan prepare untuk turun bukit. Turun menuju parkiran petak 9 dengan waktu tempuh kira- kira 15menit. Sesampainya di bawah langsung telpon jokowiyono untuk minta di jemput. Sudah lebih 30menit saya mencoba menelpon jokowiyono namun belum terhubung, langsung coba ganti telpon amim dan langsung terhubung alhamdulillah amim segera datang menjemput. Rupanya amim dan jokowiyono sedang di kebun memupuk kentang. And then kami menuju homestay untuk mandi dan beberes bersiap untuk pulang. Oiya tak lupa mampir ke rumah amim untuk berpamitan sama bapak dan ibu dirumah. Agar tak kemalaman dijalan kami berempat segera pamit setelah shalat dzuhur meninggalkan rumah amim juga meninggalkan dieng.

Kami menuruni jalan berkelok dari dieng menuju Wonosobo. Langit sudah mulai berkabut tak terlihat biru lagi. Tak lama riding kami tiba di pasar kejajar dan sesuai info amim kalau ingin mencoba jalur baru disarankan belok kiri dekat BRI pasar kejajar. Kami ikuti saran amim dan kebetulan setelah belokan ada penjual bensin eceran, yasin dan saya sempatkan isi tangki bbm. Lanjut lagi menuju ngadirejo, namun belum lama riding mata sudah dimanjakan pemandangan yang indah. Berhenti lagi sebentar untuk ambil foto. Oke gas lagi agar tak kemalaman di perjalanan, dan pemandangan indah selama riding saya nikmati dengan mata telanjang. Kalau boleh di gambarkan atau di imajinasikan saya sedang di pedesaan plosok dengan di kelilingi bukit yang tinggi. Benar- benar seperti tidak sedang di Indonesia (maaf klo lebay). Nah kurang beruntungnya pas mau mendaki jalur diatas bukit merzy saya mogok lagi karena tak kuat. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya saat merzy mogok di tanjakan, Eka boncengers saya minta turun dulu dan jalan duluan menunggu di jalan agak datar diatas. Alhamdulillah satu tanjakan sadis sudah terlewati dan kami lanjut lagi riding melintasi perkampungan. Di perkampungan padat penduduk dan jalan sempit cuma muat satu mobil ini rasanya juga bukan seperti di Indonesia. Setelah melewati satu perkampungan kami dihadapkan pertigaan jika lurus kearah basecamp pendakian Prau (new) dan ke kanan menuju ngadirejo tujuan kami. Saya sungguh terpana dengan jalur ini, suatu saat nanti pengen lewat sini lagi dan mudah- mudahan cuacanya cerah tak berkabut. Lanjut riding dengan melintasi yang dominan perkebunan kentang dan jalan sudah relatif turun terus di variasi berkelok.

IMG_20190530_204455_292

Dan tak lama kemudian kami sudah dekat dengan pasar ngadirejo. Dari pasar ngadirejo kami riding terus sampai menemukan pom bensin terdekat. Istirahat sebentar juga sekalian shalat ashar. Selesai shalat beberapa menit kemudian hujan turun dengan deras dan kami berempat sudah siap untuk gas. Langsung saja gas pol menuju temanggung sambil menghindari hujan yang sudah turun di ngadirejo. Ya sempat memang kami kehujanan sebentar dan setelah Parakan alhamdulillah hujan reda. Parakan lanjut gas terus lewat Temanggung kota (alun-alun) tanpa berhenti atau mampir gas terus menuju Magelang. Saya dan Yasin masih riding beriringan hingga Blabak Magelang, dan berpisah di pertigaan Blabak karena saya belok menuju Boyolali via Kopeng. See you next trip Yasin dan Ratna bye bye.

Lanjut ya gaes, kali ini saya riding berdua sama Eka. Melintasi jalur favorit saya kalau dari Magelang pulang ke Boyolali. Blabak- Kopeng sepertinya sempat gerimis karena jalanan masih basah dan saya tetap berhati- hati dalam berkendara. Alhamdulillah jalur relatif sepi padahal hari mulai sore pasti banyak warga keluar rumah mencari takjil untuk bersiap buka puasa. Karena jam sudah mendekati waktu adzan magrib saya dan Eka setuju untuk mencari warung makan terdekat. Setelah sambil melihat kiri-kanan jalan banyak warung yang tutup akhirnya saya berhentikan motor di depan warung mie ayam sebelum pertigaan Muntilan-Kopeng. Kami memesan mie ayam sebelum adzan berkumandang dan sama penjualnya di bilangin ” saya buatin agak nanti ya mas biar gak medok mie nya “, saya sih iya iyain aja. Beberapa belas menit kemudian alhamdulillah adzan berkumandang kami segera berbuka. Mumpung berhenti saya meminta ijin numpang shalat magrib di ruang shalatnya penjual mie ayam dan di persilahkan. Selesai shalat magrib saya dan Eka lanjut perjalanan menuju Boyolali. Hari sudah gelap cuma penerangan motor yang menerangi jalan kami. Saya tetap fokus meskipun badan sudah capek. Tak lama kemudian sampailah di Ketep dan saya ambil jalan kekanan arah Boyolali. Mulai dari Ketep selain hari sudah gelap kami di temani gerimis serta kabut tebal sepanjang perjalanan. Harapan bisa geber motor supaya cepat sampai dirumah pun sirna. Saya lajukan motor perlahan saja serta dengan hati- hati karena jarak pandang sangat minim. Jalur khas pegunungan Ketep- Selo ini kalau gak kabut sangat syahdu untuk banting kanan dan kiri. Biasanya saya bisa menempuh waktu satu jam dari Ketep sampai dirumah, namun karena gerimis dan berkabut satu jam saya baru tiba di Selo. Jam sudah menunjukkan waktunya shalat isya dan kami berhenti di masjid pasar Selo untuk shalat isya dan taraweh.

You may also like...

Leave a Reply