PertolonganNya Lewat Nelayan Di Pesisir Pulau Lembata

Pagi hari hujan lebat tetesan airnya berjatuhan diatas atap rumah bergemuruh bagaikan hempasan ombak menabrak karang. Dingin dan udara sejuk yang tak ku hirup seperti biasanya karena baru pagi ini di Kota Padang kurasakan dingin dan sejuk. 14 Juni 2015 masih menginjakkan kaki di ranah Minangkabau entah sampai kapan belum tahu pastinya. Belum mandi, ya karena dingin tak seperti biasanya malah langsung menyambar novel tentang perjalanan di samping tempat tidur. Membuka lembar demi lembar dan baru di lembaran ketiga saya teringat tentang perjalanan saya sendiri ketika melintasi sebagian bumi Indonesia Timur. Inti cerita yang teringat sebenarnya adalah ketika di ajak makan malam bersama keluarga bapak Ahmad petualang sejati dari Sulawesi yang mendamparkan dirinya di pesisir pulau Lembata.

Padang Garam sebelum masuk perkampungan penduduk

Gunung ILE APE dari kejauhan

Gunung ILE APE

Malam gelap tanpa cahaya sedikitpun kecuali dari lampu motor kami berdua yang terus menerobos gelap di jalan aspal rusak entah sudah berapa belas tahun tidak di perbaiki. Rumah penduduk terlihat bagaikan bayangan di kanan dan kiri seolah tanpa ada penghuninya. Bau debu berterbangan yang mengalahkan bau asap kedua motor kami. Suasana yang tenang dan hening seketika pecah oleh raungan mesin motor kami berdua serta bunyi dentuman shockbreker karena roda menari diatas jalanan yang hancur berantakan. Saya sendiri bingung dan tidak tau jika harus di suruh menirukan bagaimana suara tersebut jika di deskripsikan lewat suara mulut saya. Listrik yang belum sepenuhnya masuk ke desa ini *( tiang listrik dan kabel listrik secara fisik sudah ada namun listriknya hampir bisa di hitung jari berapa kali mengalirnya ke desa ) yang rupanya membuat gelap gulita tanpa cahaya. Sempat saya berfikir bahwa belum ada sama sekali jaringan listrik PLN yang menembus desa ini. Jalanan yang masih hancur berantakan seolah usai di hujani oleh ratusan geranat namun mulai tidak terlihat di kanan dan kiri rumah penduduk dan berganti dengan pepohonan. Suasana semakin sunyi senyap membuat tangan kami spontan menambah untiran gas motor agar kecepatan laju motor kami bertambah kencang. Hingga akhirnya kami tiba di pasar lelang ikan *( lebih tepatnya pasar kaget pinggir jalan, karena tidak terlihat seperti pasar namun hanya lapak lapak kecil di pinggir jalan yang menjajakan ikan segar ) dan terjadilah perdebatan antara saya dan Endang tentang apakah kami harus lanjut atau berhenti istirahat satu malam di Desa ( lupa namanya ). Di depan sebuah warung modern ( bagi saya modern karena sudah bertembok ) kami sedang berdiskusi alot karena saya ingin berhenti saja dan Endang ingin terus lanjut dan lebih khawatir istirahat di sekitar TPI karena sangat gelap. Akhirnya diputuskan untuk istirahat saja dan bertanya di mana ada masjid atau mushala kepada bapak pemilik warung, karena kami sepakat dan menghargai saran warga yang sempat kami temui ketika hari belum gelap di desa sebelumnya. Katanya selain jalanan gelap gulita sunyi senyap dan hampir tidak ada yang melewati ketika gelap, rusaknya jalan di manfaatkan beberapa orang tak baik untuk melakukan kejahatan. Setelah mendapat petunjuk kami segera menuju masjid yang terletak di dalam kampung dengan melewati jalan berbatu terus lurus saja dan kemudian belok kekanan di ujung jalan terlihat masjid setengah jadi. Tepat di ujung jalan perkampungan dan di tepi pantai yang debur ombaknya terdengar dari dalam masjid. Masjid sederhana dan masih setengah jadi namun terasa kehangatannya ketika di dalamnya. Langit gelap dan bertabur bintang serta milkyway menghiasi diatas kubah dan atap masjid. Seusai shalat magrib dan isya di jamak saya charge HP dengan powerbank ( tidak ada listrik ) serta menata beberapa perabotan dalam carir. Endang yang sedang sibuk menata baju serta kameranya dan menyiapkan lapak untuk tidur. Karena capek kami berdua tiduran sambil menunggu mata terpejam tiba- tiba kami di kejutkan oleh ketukan pintu masjid. “tok tok tok ( ketukan keras di pintu ) Assalamu’alaykum…. ” ucap seorang bapak dari luar masjid. ” Wa’alaykumsalam… ” sahut saya sambil bangun dari tiduran dan bergegas mengemasi barang- barang kemudian menuju pintu untuk membukanya. Ya langsung mengemasi barang karena kami tau masjid bukan untuk tidur/ numpang menginap ( tapi kami terpaksa), saya berfikir bahwa kami akan di usir oleh takmir masjid atau imam di masjid yang kami singgahi. Pintu pun saya buka dan terlihat di luar seorang bapak kira- kira berusia 40 tahun dengan obor menyala di genggaman tangannya. Tak saya sangka yang tadinya saya pikir akan mengusir kami berdua ternyata berucap ” nak mari kita makan malam dulu di rumah saya “, “ya Allah terima kasih banyak Engkau selalu mempertemukanku dengan orang- orang yang baik dalam setiap perjalanan saya”- gumam saya dalam hati.

Masjid yang kami singgahi semalam

Ruangan dalam masjid

Mengikuti jejak kaki bapak yang mengajak kami makan malam di rumahnya, tak jauh dari masjid kami sudah tiba. Di dalam ruang makan yang bersebelahan dengan dapur sudah ramai keluarga sedang berkumpul. ” sini kita makan dulu… ” ucap bapak sambil menyiapkan kursi untuk kami duduk yang kemudian membuka kerodong penutup makanan di atas meja. Tersaji sayur, nasi dan ikan laut goreng serta sambal yang terlihat begitu mewah dan istimewa bagi saya. ” Ayo makan dulu seadanya, adanya cuma begini ” ucap bapak yang kemudian saya sambar ” wah kalau ini sudah lebih dari seadanya pak ” sambil saya tersenyum kepada se isi ruangan. Selesai makan kami ngobrol sambil berkenalan yang kemudian saya tau nama bapak yang sangat baik hati ini adalah Ahmad. Seorang petualang tangguh dari Sulawesi yang akhirnya memilih untuk mendirikan rumah di tepi pantai pulau Lembata. Sudah belasan tahun pak Ahmad menggantungkan hidupnya di lautan demi mencari ikan. Berkah dari Allah untuk laut Nusa Tenggara Timur tidak pernah habis ikannya untuk menghidupi keluarga pak Ahmad. Sambil mendengarkan ceritanya ku pandangi segala isi ruangan ke segala penjuru. Istri pak Ahmad duduk sambil menggendong anaknya yang paling kecil kemudian dua anaknya yang lain sedang bercanda berlarian dan duduk pula dua saudara wanita pak Ahmad di samping istrinya. Sebelah kiri saya dapur yang jauh dari peradaban modern ibukota tertata beberapa tungku dari batu yang diatasnya ada ceret kemudian dandang ( dalam bahasa jawa kami menyebutnya) serta kendil untuk menanak nasi. Sarang laba- laba berwarna hitam karena langes atau jelaga dari kepulan asap tungku serta bambu sebagai penahan atap rumah juga berwarna hitam karena jelaga yang konon kata kakek saya di jawa justru jelaganya membuat penahan atapnya awet tidak mudah keropos.

# Video Perjalanan Menuju NTT #

 

Usai makan malam kami berdua diantarkan kembali ke masjid dan di bolehkan untuk menginap di masjid. Karena perut kenyang terisi makanan rasa capek saya memudar dan kantuk pun tidak jadi datang. Sambil membawa kamera saya keluar masjid dan mengarahkan kamera ke langit membidik beberapa milkyway di atas kubah masjid. Suasana gelap gulita desa ini membawa berkah bagi pecinta gugusan bimasakti seperti saya. Gugusan bimaksakti akan malu menampakkan diri ketika terlalu banyak polusi cahaya. Malam yang begitu indah lengkap pula dengan momen indah yang tak akan pernah saya lupakan makan malam bersama keluarga bapak Ahmad. Terima kasih banyak pak Ahmad, Allah yang akan membalaskan semua kebaikan bapak. Kami berdua pamit dulu melanjutkan perjalanan ya pak sampai berjumpa lagi jika suatu saat nanti saya kembali ke Lembata.

Bonus Sunrise dari Pinggir jalan tak jauh dari perkampungan pak Ahmad

You may also like...

Leave a Reply