Pulau terselatan ,Rote & Ibu Kota NTT, Kupang

img_1290

Goa Kristal

Ada yang pernah dengar pulau terselatan Indonesia? pulau Rote ya secara administratif pulau Rote sebagai pulau terselatan yang berbatasan dengan Benua Australia. Tapi ada yang pernah dengar pulau Ndana? ya secara letak memang pulau Ndana ini adalah pulau terluar selatan yang sesungguhnya. Dalam tulisan saya ini lebih banyak bercerita pulau Rote dan Kupang NTT. Saat itu dalam rangka touring menjelajah NTT bersama teman saya Ndank sekalian menuju pulau terluar selatan Indonesia.

Jika dari Jawa setelah melewati Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan tibalah di Kupang. Dari Kupang masih menyebrang lagi dengan ferry ASDP menuju Rote. Selama singgah di Kupang saya bertemu teman baru yaitu kak Merlyen Swedyn orang Kupang yang kedua orang tuanya berasal dari Bugis. Kami berkenalan sebentar kemudian diantarnya kami mampir Goa Kristal. Goa ini sesungguhnya bukan destinasi wisata namun biasanya di gunakan oleh pilot pesawat Lion Air yang sedang singgah di kupang untuk bersantai ngadem di dalam Goa. Goa batuan kapur sedikit menuruni ke bawah minim sinar matahari dan di dasar goa langsung bertemu air laut yang meresap melalui celah- celah batuan karang. Air dasar goa yang bening bahkan sebening kristal memang sungguh indah. Suasana tenang adem benar- benar membuat rileks dan nyaman. Setelah ngadem di dalam goa kristal kami melanjutkan mampir ke pantai Lasiana, pantai yang cukup dekat dengan kota serta dulunya pernah berjaya menjadi destinasi favorit warga Kupang. Pantai cukup bersih dan sepi saat itu. Pantai dengan pasir yang tidak terlalu putih seperti tepung. Angin berhembus sepoi- sepoi menggoyang deduanan pohon lontar. Berjajar rapi di pinggir pantai sedikit memberi kesejukan bagi pengunjung.

Pantai Lasiana

img_1293

Pantai Lasiana

img_1301

Pantai Lasiana

img_1324

Sunset Pantai Lasiana Bulet penuh

Di pantai Lasiana hingga senja berakhir, matahari sebelum tenggelam saat itu benaran sempurna bulat merah membara. Setelah dari pantai Lasiana saya dan Ndank numpang tidur di kantor pemasaran solar industri Kupang Energy. Tadinya pas kami sedang shalat dzuhur di tanya- tanya oleh owner Kupang Energy yang berasal dari Jawa Timur. Pertanyaan tak jauh dari “untuk apa?”, “mau kemana?”, “nginap dimana?” dan dari sana timbul tawaran untuk menginap saja di kantor beliau. Malamnya saya dan Ndank sempat jalan jalan sebentar keliling kota Kupang sama kak Mearlyen. Selain jalan- jalan keliling kota kami juga nongkrong sambil makan jagung bakar, jagung bakarnya enak rasanya memang beda dengan jagung di Jawa. Sepulang dari jalan- jalan saya dan Ndank kembali ke Kupang Energy dan langsung di sambut si bapak saya lupa namanya mengajak makan malam bersama.

Esok harinya saya dan Ndank langsung menuju pelabuhan penyebrangan mengantri pembelian tiket kapal ferry menuju pulau Rote. Alhamdulillah masih kebagian tiket ferry karena memang tiket yang dijual dalam jumlah dan waktu yang terbatas. Pukul 08:00 ferry menuju Rote sudah berangkat dengan perjalanan sekitar 4 jam di tengah laut. Setiba di Pulau Rote kami berfoto ritual seperti biasa foto di bawah gerbang selamat datang. Pulau kecil dengan penduduk yang masih terbilang jarang Alam yang indah namun gersang serta sepertinya tak banyak yang bisa di andalkan dari alam di sini. Padang rumput serta pepohonan lontar tumbuh subur, rumput sangat di dayagunakan untuk atap rumah tradisional dan pohon lontar di manfaatkan nira nya untuk membuat gula merah serta minuman “penghangat” khas Rote. Rumah tradisional kesukaanku masih sangat banyak kami temui di sepanjang perjalanan menuju pantai Nembrala. Pantai Nembrala, pantai dengan ombak yang besar ketika musim angin banyak para turis dari Ausi datang ke Nembrala hanya untuk bermain surfing. Pasirnya putih bersih lembut bahkan selembut tepung hingga beterbangan terbawa angin. Banyak tumbuh pohon kelapa di pinggir pantai di bawahnya tergeletak sampan kayu kecil.

10387619_892400597438952_5536693996595719291_n

Selamat datang Rote Ndao

img_1384

Pantai Nembrala Rote

img_1391

Pantai Nembrala Rote

img_1400

Ombak sedang tidak terlalu besar, surfer hampir tidaak ada

Dari Nembrala saya dan Ndank lanjut lagi yang sebenernya tidak tau mau kemana??? dalam perjalanan entah kemana ini kami berbalik arah saja mendekat pelabuhan sekalian mencari tempat menginap. Sambil jalan saya sambil mencari info ada apalagi selain Nembrala, saya menemukan tulisan yang menuliskan tentang Laut Mati Rote. Berbekal nama daerah saya dan Ndank tanyakan ke orang lokal yang saya temui di perjalanan. Terakhir sebelum senja saya bertanya kepada adek- adek kecil yang sedang mencari sumber air tawar bersih. Katanya laut mati masih jauh, masih sekitar 3 jam perjalanan lagi. Saya dan Ndank tak banyak berharap dan melajukan motor sewajarnya saja sambil menikmati pemandangan di kanan dan kiri. Senja mulai datang perlahan dan laju motor pun kami kurangkan, akhirnya berhenti di tepi jalan dan turun ke pantai. Senja begitu sempurna, warna emas bercampur orange membalut langit dan air laut pantai Batu Termanu ( kami tidak tau kalau ini memang pantai sudah di beri nama). Di pantai dengan sedikit batuan karang berdiri di tepian ini saya dan Ndank mendapat kenalan baru yang juga sekedar mampir di pantai ini. Saya sampai lupa namanya yang saya ingat si mas ini pegawai PLN dan sedang dines di kawasan NTT, beliau berasal dari Tegal. Mas dari Tegal ini sempat menawarkan mess nya untuk kami menginap, namun karena arah nya berlawanan maka saya dan Ndank menolaknya. Hari sudah gelap saya dan Ndank tetap melanjutkan perjalanan mendekat ke Arah pelabuhan. Jalanan gelap gulita khas Nusa Tenggara Timur, rumah- rumah di pinggir jalan sebagian besar masih berpenerangan lampu minyak. Akhirnya tiba di pantai baru ( nama daerah sekitar pelabuhan) kebimbangan pun menimpa kami berdua. Kami terombang ambing bagikan di awan tertiup angin, kalau terombang ambing di laut sudah di lewati setiap menyebrang ke pulau lain hehehe. Mengingat di Rote ini mayoritas nasrani dan hanya ada satu masjid di tengah perjalan ketika menuju Nembrala artinya kami sungkan untuk menumpang menginap di gereja dan tidak mungkin balik lagi ke Papela untuk menumpang tidur di masjid mujahidin. Melihat ada sebuah SMP di Pantai Baru kami punya niatan untuk tidur di emperan ruang kelas atau apapun namun punah sudah harapan kami karena gerbang sekolah di gembok. Urungkan niat dan putar balik ternyata di depan SMP terdapat kantor polisi langsung saja kami beranikan masuk dan parkir motor kemudian berteriak memanggil- manggil ke dalam ruangan namun tidak ada yang menyambut. Ternyata setelah beberapa saat saya menunggu sambil memasak mie instan ( tidak ada warung serta untuk menghemat bujet) datanglah seorang polisi yang sedang berjaga/ Piket. Belum sempat mengutarakan keinginan kami si bapak langsung saja menanyai kami dengan beberapa pertanyaan. KTP kami berdua di minta dan di suruh menulis di laporan buku tamu mereka serta di minta surat keterangan kunjungan/ Touring padahal kami tidak punya. Sebelum akhirnya kami di ijinkan menumpang menginap di kantor polisi Rote kami sempat di ceramahi sedikit karena terlalu nekat berkelana tanpa surat jalan dari Polisi asal kami. Karena tidak ada kasur empuk atau tempat tidur di buka lah salah satu penjara sementara yang di dalamnya ada semacam tandu untuk tidur. Untuk pertama kalinya saya masuk pejara dan tidur di kantor polisi ( bukan karena kriminal 😀 ). Esok pagi harinya sebelum pamitan kami sempat bertemu dengan kepala kantor polisi yang saya juga lupa namanya sempat menceritakan bahwa ada seorang pengembara yang bernama Sutikno yang katanya akan mampir namun sepertinya tidak sempat mampir menemui pak kelapa kantor polisi. Setelah pamitan saya dan Ndank melanjutkan tujuaan kami yang tertunda hari sebelumnya yaitu Laut Mati.

img_1572

Batu Termanu

img_1552

Nyunset di Pantai Batu Termanu

Laut mati di Rote bukan seperti Laut mati yang ada di Timur Tengah ataupun bukan juga laut yang mematikan. Laut mati ini konon katanya air laut yang mengalir masuk ke danau kemudian terjebak dan tidak mengalir lagi ke laut sehingga alirannya mati. Ada juga warga yang menyebutnya Danau air Asin karena air nya tidak bergerak namun airnya berasa asin berasal dari laut. Saya sebut saja Danau laut mati, danau yang tenang dan cahaya pagi itu sangat teduh, sekelebat mata memandang memang tidak ada yang sangat istimewa. Danau air asin biasa dengan pantai/ pinggir danau berpasir putih pohon bakau di sekeliling. Sampan kecil dari kayu coklat pucat sedang bersandar di tepian danau. Suara angin dan kicau burung dari hutan sekitar danau. Bukan Danau nya yang istimewa namun suasana yang tenang sejuk membuat rileks dan damai membuat danau ini istimewa.

objek-wisata-ntt_65981_128_danau_laut_mati

Ekspektasi sumber : http://tourism.nttprov.go.id/tujuan/9-rote_ndao

img_1776

Realita

img_1781

Danau Laut Mati

img_1783

Danau Laut Mati

img_1793

Danau Laut Mati

You may also like...

Leave a Reply